SELAMAT DATANG DI BLOG OPBS

MAN 1 SURAKARTA

Program Boarding School Sains Riset dan Teknologi MAN 1 Surakarta adalah salah satu program unggulan jurusan IPA yang menyediakan fasilitas asrama dan pengembangan diri untuk siswanya. Program ini diharapkan untuk menyiapkan peserta didik yang berakhlakul kharimah, taat dalam beribadah, dan mempunyai bidang keahlian sains, bahasa Inggris, dan ICT (Information and Communication Technologies) sehingga mampu mengembangkan diri sebagai intelektual muslim.

Our Account

YOUTUBE

Visit

INSTAGRAM

Visit

TWITTER

Visit

BLOG

Visit

Mading Dan Kegiatan

Selasa, 10 Agustus 2021

TAHUN BARU HIJRIYAH 1443H


 


     Tahun Baru Hijriyah atau Tahun Baru Islam merupakan suatu hari yang penting bagi umat Islam karena menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam yaitu memperingati penghijrahan Nabi Muhammad saw. dari Kota Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada 1 Muharam tahun baru bagi Kalender Hijriyah. Namun, Tahun Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah itu diambil sebagai awal perhitungan bagi Kalender Hijriyah.

 

     Kalender Hijriyah secara resmi belum dimulai ketika zaman Rasulullah S.A.W. Kalender ini hanya dimulai pada zaman Khalifah Arrasyidin kedua yaitu Umar al-Faruq R.A. Ada beberapa saran dari para sahabat untuk penetapan tanggal bagi Madinah ketika itu, ada yang mengusulkan tahun Islam dimulai ketika kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada yang mengusulkan awal tanggal Islam ditetapkan pada hari Rasulullah diangkat sebagai nabi dan rasul tetapi pandangan yang menyarankan awal tanggal Islam pada tanggal hijrah Nabi SAW. Penetapan ini adalah untuk mengenangkan betapa pentingnya tanggal hijrah yang menjadi perubahan paradigma dalam sejarah agama Islam yang mana pertama kali dalam sejarah Islam seorang nabi dan rasul membentuk pemerintah dengan segala kesulitan dan berhasil membuat hubungan diplomatik dengan beberapa negara serta menyampaikan dakwah Islam secara global sehingga Islam tersebar ke merata dunia.

 

     Bulan Muharram bagi umat Islam dipahami sebagai bulan Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang sebelumnya bernama “Yastrib”. Sebenarnya  kejadian hijrah Rasulullah tersebut terjadi pada malam tanggal 27 Shafar dan sampai di Yastrib (Madinah) pada tanggal 12 Rabiul awal. Adapun pemahaman bulan Muharram sebagai bulan Hijrah Nabi, karena bulan Muharram adalah bulan yang pertama dalam kalender Qamariyah yang oleh Umar bin Khattab, yang ketika itu beliau sebagai khalifah kedua sesudah Abu Bakar, dijadikan titik awal mula kalender bagi umat Islam dengan diberi nama Tahun Hijriah.

 

    Dalam bahasa Arab, hijrah bisa diartikan sebagai pindah atau migrasi. Tafsiran hijrah disini diartikan sebagai awal perhitungan kalender Hijriyah, sehingga setiap tanggal 1 Muharam ditetapkan sebagai hari besar Islam. Memang, sejak hijrahnya Rasulullah ke Yatsrib, sebuah kota subur, terletak 400 kilometer dari Makkah, Islam lebih memfokuskan pada pembentukan masyarakat muslim yang tidak kampungan di bawah pimpinan Rasulullah.

 

    Tahun Baru Islam 2021 atau 1 Muharram 1443 Hijriyah tetap jatuh pada tanggal 10 Agustus 2021. Namun ada perubahan tanggal libur Tahun Baru Islam 2021. Terkait hari libur Tahun Baru Islam 2021 ini, telah ditegaskan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Melansir laman resmi Kemenag, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan, bahwa pemerintah hanya memindahkan tanggal merahnya dari Selasa, 10 Agustus 2021 menjadi Rabu, 11 Agustus 2021. Perubahan hari libur Tahun Baru Islam 2021 ini telah tertuang dalam Keputusan bersama Menag, Menaker, dan Menpan RB No 712, 1, dan 3 tahun 2021 tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Bersama Menag, Menaker, Menpan dan RB No 642, 4, dan 4 tahun 2020 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama.

 

Pesan perubahan dalam menyambut Tahun Baru Hijriyah, yaitu:

1. Hindari kebiasaan-kebiasaan lama / hal-hal yang tidak bermanfaat pada tahun yang lalu untuk tidak diulangi lagi di tahun  baru ini.

2. Lakukan amalan-amalan kecil secara istiqamah, dimulai sejak tahun baru ini yang nilai pahalanya luar biasa dimata Allah SWT, seperti membiasakan shalat dhuha 2 rakaat, suka sedekah kepada fakir miskin, menyantuni anak-anak yatim, dll.

3. Usahakan dengan niat yang ikhlas karena Allah agar tahun baru ini jauh lebih baik dari tahun kemarin dan membawa banyak manfaat bagi keluarga maupun masyarakat muslim lainnya.




PAWAI HADROH MALAM TAHUN BARU HIJRIYAH 


Hari Selasa,7 Agustus 2021, 06.30 p.m. @Masjid Badriyah Muhammad

              Saat itu, tampak sekumpulan anak-anak umur 6-13 tahun beserta seorang ustadz muda di muka ruang sebuah Masjid di sebuah Desa. Mereka sedang melakukan kegiatan pengajian dengan cukup tenang. Seorang gadis manis bergamis Biru termenung di sudut ruang Masjid sendirian, matanya menatap semu mimbar musholla. Ia telah menyetorkan bacaan Al-Qur’annya kepada sang ustadz. Tangan kanannya mendekap kitab suci, sedangkan tangan sebelahnya lagi menopang dagunya. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu. Tiba-tiba, ia beranjak mendekati Pak Ustadz yang tengah membuka kitab Al-Qur’an, ia telah memeriksa bacaan seluruh anak.

                “Pak Ustadz, saya boleh bertanya, tidak?” tanyanya pelan, dengan intonasi ragu-ragu.“ Apa sih yang enggak buat kamu, Resti? Ayo, tanyakan saja,” jawab Pak Ustadz yang bernama Mustafa itu. Tiba-tiba, ruangan musholla yang agak berisik itu mendadak hening. 

                “Ih, kok semuanya jadi diam?” Tanya gadis manis itu, Resti, kepada teman-temannya. “Hihi, kami ‘kan ingin dengar pertanyaan dari Kak Resti yang menarik itu,” ujar Alifah, gadis yang setahun lebih muda dari Resti, mewakili sekumpulan anak sepengajian itu. Resti hanya mendengus pelan. “Jadi begini, ustadz. Emmm.. Perayaan Ulang Tahun itu hukumnya apa, ya?”

                Seketika, musholla itu menjadi riuh kembali. Pak Ustadz pun mengatasinya, “Hush…hush…tenang anak-anak. Pak Ustadz akan menjawab pertanyaan bagus dari Resti ini.” Beliau berdehem ringan. “Ada sebuah hadits yang menyatakan, bahwa bila kita mengikuti adat kebiasaan segolongan kaum, maka kita akan menjadi bagian dari kaum tersebut. Nah, asalnya perayaan ulang tahun itu kan dari Bangsa Barat yang kafir, jadi artinya kita sama saja dengan mereka.” Terang Ustadz Mustafa panjang lebar. Anak-anak itu hanya mengangguk-angguk tanda paham. Resti sendiri hanya memasang tampang yang seolah berkata “Oh begitu.”

                “Cieee…yang sebentar lagi ulang tahun! Pantas saja bertanya seperti itu!” pekik Fatiha, teman sekelasnya yang tomboy, sembari menepuk pundak Resti. “Ih..apaan sih, kamu,Fat?” sergah Resti sinis.“Oh, ya kapan hari kelahiranmu, Resti?” Tanya Pak Ustadz, mendengar perkataan Fatiha. “Emm…tanggal 10 Agustus 2021, Ustadz,” jawab Resti, yang bernama lengkap Resti Putri itu.

                “10 Agustus? Aduh, Ustadz lupa sesuatu. Oh, ya, ada acara Pawai Hadroh Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1443 Hijriah se-Kecamatan. Tim kita sudah Ustadz daftarkan .”            

              “Acara Pawai Hadroh hari Senin, tanggal 9 dimulai dari jam setengah sembilan malam. Kata panitianya akan ada hadiah bagi tim-tim yang bagus dalam pawainya. Tim kita nanti mulai mempersiapkan diri ya, kostum, spanduk dan yel-yel kalian. Ustadz pasti bantu kalian. OK?”.“OK, Pak Ustadz!!” koor anak-anak pengajian menjawab persetujuan Ustadz Amin.

                “Sekarang, waktu sudah sampai waktu sholat Isya. Ayo rapihkan buku-buku kalian, dan kita akhiri majlis kali ini. Doa Kifaratul Majlis.” Tutup Ustadz Amin.

Hari Rabu, 8 Agustus 2021 10.30 a. m. @Ruang kelas 6A SDN Cihaseum 02

                “Hai Resti, Sedang apa nih ? sapa sekaligus tanya seorang perempauan berbadan tinggi dan berkulit terang kepada Resti, yang sedang duduk di bangkunya. Di sebelah Resti, terdapat Fatiha, yang sedang menggambar desain grafitty namanya sendiri di buku tulisnya.“Hai Jessica. Tidak sedang apa-apa kok. “ jawab Resti. “Oh, ya Resti, Fatiha. Tadi saat jalan ke sekolah, aku melihat ada pengumuman acara Pawai Hadroh Peringatan Tahun Baru…apalah itu namanya, nanti tanggal 9 Agustus. Aku ingin ikut, tetapi Pak Ahmadi bilang, sekolah kita nggak ikutan acara itu. Jadi aku harus bagaimana?” Raut cantik Jessica menampilkan rona kecemasan.

Sontak, Fatiha dan Resti saling berpandangan. “Itu, acara yang dikasih tahu Ustadz Mustafa, Res?” Tanya Fatiha, dengan mata membulat, dan suara berbisik. “Emm…Mungkin kali, Fat,” jawab Resti kepada sahabatnya ragu. “Kalian ikut acaranya ya? Kenapa ga bilang aku? Aku mau ikut kalian!” sela Jessica dengan suara cukup lantang. “Hah?! Kalian yang belum bisa main alat nya masih aja mau ikutan acara pawai Hadroh buat bocah-bocah kecil itu?! Hello…” terdengar ejekan dari belakang tempat duduk mereka berdua, yaitu Melia, “Iya, ya Mel, apa itu, Sok Bisa,“ sambung Cindy pedas. Hampir saja Fatiha berdiri dan berjalan ke belakang untuk memberi Melia dan Cindy ‘pelajaran’, namun tangan Resti mencegahnya. Di samping Melia dan Cindy, ada teman satu geng-nya, yakni Erika yang merupakan salah satu teman sepengajian mereka, diam saja, “Jessica, untuk apa sih mengikuti mereka. Ih, ga level. Mending tunggu 1 Januari saja nanti aku bakal buat pesta barberque, huu..dijamin lebih seru dari pawai kampung mereka!! “ seru Melia, lalu ia ber-tos dengan Cindy dan Erika. Jessica menggigiti ujung kukunya, mencirikan bahwa ia sekarang sedang kebingungan, “Ehmm..aku mau berpikir dahulu ya, Res, Fat. Dadah,” Jessica berpaling, dan berlari keluar kelas 

Hari Rabu, 8 Agustus 2021 04.35 p.m. @Halaman Musholla Al-Ma’rifatullah

“Huh, aku kesal dengan Erika. Meskipun ia anggota geng-nya gadis-gadis sok tahu itu, harusnya dia membela kita. Dia juga ‘kan murid pengajian kita  juga. Sekarang malah dia yang tidak masuk ngaji,” gerutu Fatiha, yang sedang duduk bersama teman-teman lainnya. Resti tidak bereaksi apapun. “Eh, kita teh jadi mengajinya apa engga, teh?” Tanya Filzah, dengan aksen Sunda yang cukup kentara. “Gak tahu, tuh. Pak Ustadz Mustafa kemana ya?” kata Fatiha balik bertanya. “Tenang. Usman sedang ke rumahnya, “ ujar Resti mengendalikan suasana. 

Tak lama, datanglah Usman ke hadapan anak-anak pengajian Masjid itu. “Pak Ustadz kagak bisa dimari, tapi kalo elu pade mau pulang, ye silahkan aje, “ terang Usman, si anak keturunan Betawi. Anak-anak pun menghela napas panjang. Saat mereka akan membereskan tas mereka dan hendak pulang, terdengarlah sebuah ide dari mulut Resti “Aha! Bagaimana kalau sekarang kita mempersiapkan keperluan kita untuk pawai Hadroh besok?” . Beberapa saat hening, “SETUJU!!” teriak mereka. Maka, mereka masuk ke ruang Masjid yang sedang lengang untuk menyusun rencana persiapan Pawai Hadroh. 

Hari Senin, 9 Agustus 2021 08.15 p.m. @Lapangan Masjid Kecamatan

                Acara Pawai Hadroh yang rutin 2 tahunan itu akan segera dilangsungkan. Ramai dan banyak sekali Tim yang memeriahkan acara ini, dari segala golongan dan usia. Tim dari pengajian Restidkk. Tengah duduk dan bersiap-siap di sisi kiri lapangan masjid itu. “Eh, ayo kita siap-siap. Makanan? Sudah. Spanduk? Siap. Kostum? Masya Allah, kalian kreatif sekali,” kata Ustadz Mustafa sambil memuji. Kostum yang mereka kenakan adalah baju panjang warna putih, dan selempang dada bertuliskan ‘Miss Sholehah 2013’ dan di kepalanya dihiasi  mahkota dari kardus . Sedangkan untuk anak putra tulisannya ‘Mas Sholeh 2013’ dan kain sorban. Terdapat pula rumbai-rumbai kertas kilap meliliti beberapa bagian tubuh mereka. “Yel-yel nya bagaimana?” Tanya Ustadz Mustafa lagi. “Pokoknya, Ustadz dengarkan saja. Pasti bagus dan bikin ketagihan!” jawab Fatiha PeDe. “Iya, iya. Ustadz mengawasi kalian dari belakang dengan motor Ustadz. Semangat! Allahu Akbar!”

                Terdengar suara pemberitahuan kepada semua peserta untuk berbaris, karena acara akan segera dimulai. Dan, seluruh peserta, yang jumlahnya puluhan itu memulai acara itu, tak terkecuali tim Resti dkk.  Mereka mendapat nomor urut 008, yang dikapteni oleh Resti, Fatiha dan Usman. Mereka berjalan sambil membawa spanduk dan beberapa alat Hadroh, serta menyerukan sholawat nabi mereka, dengan lantang. Tampak kelompok dengan nomor urut 009 menyusul laju mereka, dan menyerukan sholawat mereka, lebih keras dari Resti dkk. Sesaat mereka terdiam, lalu Resti memekik tegas, “Ayo! Shollu’alannabi muhammad! Semangat! Shollu ‘alaih!”. Bagai energy handphone yang ter-charge kembali, mereka pun berjalan lebih cepat. ‘Menyalip’ posisi peserta nomor 009, dan terus menggaungkan sholawat.            

                   Resti menyapu pandang ke seluruh penjuru jalan yang seluruh peserta lewati. Jalan raya tersebut sesak oleh tak terhitung manusia, yang meski tidak mengikuti langsung acara pawai Hadroh tersebut, namun bibir mereka melantunkan sholawat, mengikuti gema yang disuarakan oleh para vokal mereka. Menjadikan malam 1 Muharram itu menjadi sebuah malam dengan harmoni doa penuh syahdu kepada Ilahi Robbi. Hati Resti bergetar. Ia telah melupakan segala iming-iming hadiah pemenang acara pawai. Kini seluruh  jiwa di lokasi itu menjadi satu, Allahu Akbar, Allahu Akbar, menyambut waktu Tahun Baru Islam yang telah datang. Baginya, rasa menyejukkan ini adalah hadiah terindah dari Allah S.W.T, di hari berkurangnya jatah hidupnya itu.

                Akhirnya pawai itu selesai pada pukul 01.30 a.m.  Seluruh peserta beristirahat di lapangan masjid kecamatan yang telah dialasi plastik biru, setelah menempuh rute pawai sejauh 6 km. Dan, kini saatnya pengumuman pemenang pawai Hadroh. Seluruh peserta mendengarkan pengumuman tersebut dengan takzim, walau rasa kantuk menyergapi mereka. Beberapa kategori telah dibacakan, namun tidak disebutkan nama pengajian Resti dkk. Hingga akhirnya, “Tim peserta anak terbaik…Jatuh pada….” Kata pembaca pengumuman. “Majlis Ta’lim Badriyah Muhamad..”. Sorak sorai membahana, dan tanpa disuruh Fatiha maju ke atas panggung untuk mewakili pengajiannya untuk menerima hadiah.

                “Alhamdulillah kita menang!!” seru Ustadz Mustafa girang. Tiba-tiba datang Jessica ke hadapan Resti dan Fatiha, “Yeee…kalian menang. Selamat ya!”. Resti dan Fatiha terkejut dan seraya berkata,” Jessica?! Sedang apa disini? Dengan siapa?”. “Hehehe…Itu bersama Melia, Cindy, dan Erika. Kita mengikuti pawai kalian. Ternyata menyenangkan. Dan mereka minta maaf kalau sudah membuat kalian marah. Ayo, kita ke tempat mereka sekarang,” ajak Jessica, membuat wajah Resti dan Fatiha yang semula muram dan menahan marah, menjadi cerah kembali.

 


Ahlan wa Sahlan 1 Muharram

 

Ahlan wa Sahlan 1 Muharram Tahun Baru Hijriah

Kami menyambutmu dengan hati bersih

Dengan senyum merekah

Meski virus merajalela di dunia

Meski peperangan berkecamuk di Suriah

 

Mulai detik ini kami bertekad untuk hijrah

Tinggalkan perilaku nista yang tercela

Kami tak ingin jadi insan yang terjajah

Oleh Rayuan setan yang membuat kami lengah

 

Mulai detik ini kami bertekad untuk hijrah

Kami tak ingin jadi golongan yang kalah

Oleh amarah dan serakah

Kami kan berusaha tuk jadi ramah dan amanah

 

Mulai detik ini kami bertekad untuk hijrah

Tinggalkan perbuatan yang tercela

Sampai kami menjadi pribadi yang rendah

Menjadikan kami insan  yang bijaksana

 

Ahlan wa sahlan 1 Muharram Tahun Baru Hijriah

Kami menyambutmu Bersama fajar yang merekah

Tanpa rasa resah ataupun gelisah

Berharap turunnya berkah Allah yang melimpah













 Kelompok 1

1.    Faiza Dheja Muzammil
2.    M. A. Haidar Yusuf
3.    Abyan Abdillah
4.    Muhammad Habib As-Syauqi
5.    Haritsa Abdullah Perkasa
6.    Zedaloka Syahdafi Widi
7.    Rurouni Batosai
8.    Andreansyah Putra Surya
9.    Muhammad Naufal Romi Annafi

 



Sabtu, 17 Juli 2021

HARI BUKU

 

 

Hari Buku Sebagai Sarana Untuk Meningkatkan Minat Literasi




Hari Buku Nasional atau Harbuknas diperingati setiap tanggal 17 Mei, hal ini berbeda dengan Hari Buku Sedunia yang diperingati pada tanggal 23 April. Hari buku ini ditetapkan sejak tanggal 17 Mei 2002. Hari buku ini bertujuan untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta.

Sejarah penetapan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku di Indonesia sendiri karna ide dari Abdul Malik Fajar, Menteri Pendidikan Indonesia pada tahun 2002. Penetapan tangga 17 Mei juga bertepatan dengan peringatan berdirinya gedung Perpustakaan Nasional, hal ini dimaksudkan untuk menunjukan filosofi bahwa buku sangat erat kaitannya dengan perpustakaan.

Ditetapkannya Hari Buku itu dilatar belakangi kondisi bangsa Indonesia yang ketika itu masih lebih banyak mempertahankan tradisi lisan dibanding menjawab tuntutan informasi dengan banyak membaca. Secara umum masyarakat masih memiliki tradisi menyebarkan informasi dari mulut ke mulut dari pada membaca.

Selain itu, juga karena melihat kondisi memprihatinkan Indonesia yang rata-rata hanya ada 18 ribu judul buku yang dicetak setiap tahunnya, jumlah tersebut jauh dibawah Jepang dengan 40 ribu judul pertahunnya dan China dengan 140 ribu judul buku pertahunnya.

Tujuan utama dari didakannya Hari Buku Nasional adalah agar dapat meningkatkan angka melek huruf dan angka literasi masyarakat Indonesia. Tingkat melek huruf Indonesia pada penduduk berusia diatas 15 tahun, pada 2002 hanya 87,9%, angka tersebut kalah dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara seperti Malaysia (88,7%), Vietnam (90,3%), dan Thailand (92,6%) di tahun yang sama.

Pada Maret 2016, Central Connection State University merilis survei minat baca pada setiap negara di dunia. Hasilnya, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Dari data tersebut menunjukan bahwa minat literasi Indonesia sangat rendah.

UNESCO juga menyatakan bahwa minat baca Indonesia sangat memprihatinkan, presentasenya hanya 0,001%, yang artinya hanya ada 1 dari 1000 orang yang rutin membaca. Word Bank meriis laporan bahwa dari penduduk Indonesia yang rutin membaca, lebih dari setengahnya, yaitu 55%, mengalami buta huruf fungsional, yang artinya masih banyak yang “kurang” memahami informasi yang dibaca.

Di zaman serba teknologi saat ini masih ada sekitar 1,93% penduduk Indonesia yang buta huruf, berdasarkan laporan BPS 2020 .Pada pandemi Covid-19, angka buta huruf mengalami peningkatan dari 1,78% (pada 2019) menjadi 1,93% (pada 2020). Artinya masih ada sekitar 5.237.053 penduduk Indonesia yang mengalami buta huruf.

Para Penduduk Indonesia yang mengalami buta huruf itu sebagian besar tersebar di enam provinsi di Indonesia, mencangkup Papua (21,9%), Nusa Tenggara Barat (7,46%), Nusa Tenggara Timur (4,24%), Sulawesi Selatan (4,22%), Sulawesi Barat (3,98%), dan Kalimantan Barat (3,82%).

Dengan adanya Hari Buku dapat diharapkan dapat meningkatkan minat literasi dan mengurangi presentasi masyarakat buta huruf di Indonesia.

 














 

Gerimis  

Langit cerah, sedikit mendung. Matahari bersinar lembut seperti biasa. “Udan Kethek” (Hujan Monyet), begitulah beberapa daerah menyebutnya. Hujan, namun matahari tidak tertutup awan, tetap bersinar. Kontras dengan suasana pagi yang tenang dan damai, suasana di sebuah kelas terasa ramai.

Jamkos. Alasan yang membuat kelas itu lebih berisik dibanding biasanya. Setelah pelajaran matematika yang membosankan, jamkos ini memang waktu yang tepat untuk membuang penat di pelajaran sebelumnya.

Beberapa anak terlihat berkumpul di meja, berbisik-bisik. Sesekali berseru kencang, lalu berbisik-bisik lagi. Beberapa ada yang bermain di lantai, duduk melingkar. Membuat beberapa meja dan kursi tergeser. Ada juga yang berkeliaran di teras kelas. Masuk saat ada guru yang lewat, lantas keluar lagi saat guru itu sudah pergi. Lalu ada yang pergi ke kantin, jajan. Membawa makanan ke dalam kelas. Lalu ada yang menyanyi tidak jelas di depan kelas, konser dadakan dengan suara pas pasan.

Selain anak anak yang berisik ada juga yang terlihat tenang. Mencatat materi matematika yang tertinggal, atau tidur. Tidur di meja, tidur di lantai, dimanapun tempat yang enak untuk tidur.

Begitu juga dengan dua anak perempuan yang duduk di pojok kelas. Mereka terlihat tenang, seolah tidak terpengaruh oleh keributan di kelas mereka. Mereka sedang membaca. Terlihat beberapa novel bertumpuk di atas meja.

“lagi baca novel apa Shei?” Suara Veya yang datang memecah fokus Sheira.

Sheira menoleh, hendak menjawab. “Baca—“

“Ohh yang judulnya benda benda langit itu ya?” Veya lebih dulu memotong ucapan Sheira, mengamati novel yang sedang dibaca Sheira.

“Tuh kan kebiasaan motong omongannya orang.” Bukannya menjawab, Sheira malah mengomeli Veya.

“Heheh.. maaf Shei.” Veya menangkupkan tangan di depan dada, meminta maaf. “Eh tapi bukannya kamu sudah baca sampai yang cover abu abu tua itu? Yang kamu baca ini kan bulan”

“Baca ulang. Soalnya ceritanya bagus banget, dibaca ulang pun enggak bosen.” Sheira menjawab sambil kembali membaca novel.

Veya memperhatikan beberapa novel di atas meja, mengambilnya satu, membuka sembarang halaman. “Iya sih, dulu aku pernah baca sampai bintang memang bagus. Tapi aku baca lewat pdf, dikasih teman.”

“Ilegal.”

Veya dan Sheira menoleh. Itu suara Anna. Dari tadi Anna hanya diam, fokus membaca novelnya. Saat ini pun dia tidak mengalihkan pandangannya, tetap fokus membaca. Sepertinya Anna sekilas mendengar percakapan Veya dan Sheira.

“Eh, emangnya iya Ann?” Veya menatap Anna.

Anna diam, masih fokus membaca. Tahu orang yang dia tanyai tidak akan menjawab, Veya menoleh pada Sheira, meminta jawaban.

“Iya, ilegal. Soalnya itu kayak pelanggaran hak cipta begitu kan. Yang berhak memperbanyak itu kan pemilik hak ciptanya. Jadi kalau mau mengumumkan atau memperbanyak harus dapat izin penciptanya. Memang ada sih penulis yang mengizinkan e-book-nya diunduh secara gratis, tapi kan cuma beberapa. Kalau aku sih lebih suka baca  novelnya langsung saja daripada pdf. Lihat layar hp sama laptop lama lama kan enggak enak di mata.” Sheira menjawab pertanyaan Veya.

“Kalo buku bajakan itu juga gaboleh ya?”

“Enggak boleh lah. Apa sih untungnya beli yang bajakan. Walaupun murah tapi kan kualitasnya buruk banget, terus juga merugikan banyak pihak. Merugikan penulis, editor, sama penerbit dan toko bukunya. Habis itu juga bisa kena denda loh. Pokoknya jangan deh beli buku bajakan.”

“Oke!” Veya menyatukan ibu jari dan telunjuknya, membuat tanda. Veya melihat lihat lagi buku yang ada di atas meja. “Eh, yang ini lanjutannya bintang kan, aku belum baca. Aku mau pinjam ya?”

“Oh itu novelnya Anna.” Sheira yang menjawab.

“Pinjam ya Ann?”

“Iya.” Anna menjawab singkat, masih tetap membaca.

“Eh Vey,” Sheira menyikut Veya, berbisik. “Kalau pinjam novelnya Anna halamannya jangan ditekuk, jangan sobek, pembatasnya jangan hilang, jangan basah, jangan kotor, jangan dibuka lebar lebar apalagi kalau masih baru. Pokoknya banyak jangan-nya. Hati- hati ya pinjamnya. Kalau rusak sedikit saja yang punya bisa marah”

Veya tertawa kecil, mengiyakan perkataan Sheira.

“Gausah bisik-bisik. Kedengaran sampai sini tahu.” Anna berseru ketus.

Sheira tertawa. “Maaf ya Ann. Tapi benar kan, kamu itu kalau sama novel dirawat banget kayak gaboleh tergores sedikitpun begitu.”

“Kan biar awet.” Anna berseru lagi.

Sheira menoleh pada Veya, “Tahu gak vey, dirumahnya banyak novel. Apalagi yang penulisnya novel ini, komplit.” Sheira menunjuk novel yang dibacanya. “Dijamin betah kalau main kerumahnya.”

“Wihh, enak banget ya bisa ngoleksi banyak novel begitu. Kalau aku mana bisa, sudah tergoda buat beli yang lain.” Wajah Veya terlihat riang. “Aku waktu libur panjang nanti mau baca novel seharian dirumah ah.”

“Jangan cuma baca novel, baca buku yang lain juga.” Anna berkata pelan.

Mirror ya Anna sayang. Padahal kamu juga suka banget baca novel. Tuh, dari tadi kamu enggak nengok ke kita sama sekali loh, Cuma nyahut-nyahut, lihatnya ke novel terus.” Sheira mulai mengomel.

“Kamu jadi jarang bersosialisasi sama sekitarmu kan, enggak memperhatikan. Baca buku, komik, novel, itu boleh yang penting enggak berlebihan. kamu itu juga sedikit-sedikit baca novel. Jamkos baca novel, jam istirahat baca novel, aku curiga jangan jangan waktu pelajaran kamu diam-diam baca novel ya Ann?” Sheira menyelidik, menatap Anna. Yang ditatap sedang fokus membaca novel.

“Tuh kan! Enggak nggagas. Tadi dengerin aku ngomong enggak sih?” Sheira menyenggol lengan Anna.

Anna menoleh, mengangkat satu alisnya, raut mukanya seolah bertanya ‘kenapa?’. Sheira menghela nafas pelan, sudah biasa menghadapi sifat Anna.

“Eh, besok libur kan, mau ke Gramed enggak?” Veya mengalihkan topik.

Anna mengangguk.

“Ayo! Aku sudah lama enggak ke gramed deh. Aku mau beli buku terbarunya serial bumi.” Sheira terlihat antusias, melupakan kekesalannya pada Anna.

“Aku udah punya dirumah.” Anna menoleh pada Sheira.

“Demi apaa!? Yang cover putih sama abu-abu itu?”

“Iya.” Anna menganggguk lagi.

“Kok enggak bilang sih. Yaudah besok habis ke gramed mampir rumahmu ya Ann. Gausah beli deh, hemat uang jajan.”

“Iya.”

 

***

 

Esoknya. Veya dan Sheira sudah di gramedia sejak satu setengah jam yang lalu. Tapi batang hidung Anna belum juga terlihat.

“Aduh si Anna ini kebiasaan deh kalo main datangnya paling akhir. Nanti kalau pada mau pulang baru datang.” Sheira menggerutu kesal. Mereka sedang diantara rak rak buku, melihat-lihat novel.

“Mungkin lagi dijalan Shei.”

“Rumah dia deket loh Vey dari sini.”

“Eh, ya gatau Shei. Coba di chat.” Usul Veya.

“Oh iya ya.” Sheira hendak mengambil ponsel di dalam tas.

Tapi suara notifikasi lebih dulu menyahut. Ternyata itu chat dari Anna. Sheira membacanya sekilas, mendengus pelan, lantas mengetikkan jawaban.

“Siapa Shei?”

“Anna. Disuruh langsung ke rumahnya aja. Katanya disuruh jaga adik dirumah, orang tuanya pergi.” Sheira menjelaskan.

“Yaudah yuk. Aku mau bayar ini dulu, terus kita ke rumah Anna.” Veya beranjak pergi ke kasir sambil membawa novel yang akan Ia beli.

“Oke.”

Setelah Veya membayar novelnya, mereka keluar dari gramedia. Setelah memesan taksi online. Sheira sempat mengomel soal kenapa Anna tidak mengabari dari awal, jadi mereka tidak usah menunggu lama di gramed. Veya hanya tertawa menanggapi perkataan Sheira.

Tidak sampai lima belas menit, mereka sampai di rumah Anna. Sheira mengomel pada Anna, yang hanya dibalas anggukan saja. Veya sempat bertanya dimana adik yang harus dijaga Anna. Anna menjawab sekilas, tidur.

Mereka menuju ruang baca. Sheira langsung meminjam novel milik Anna, sedangkan Anna menyiapkan minuman dan beberapa camilan dibantu Veya. Lalu mereka bertiga duduk tenang di ruang baca rumah Anna.

Hening. Entah sudah berapa menit berlalu. Sesekali terdengar suara lembaran buku di balik, juga suara camilan yang dimkan.

Sheira menutup novelnya sejenak saat mendengar suara seseorang.

“Loh, nangis Vey?”

“Ali baper banget aaaaa.” Veya mengusap air mata di pipinya.

Sheira tetawa sejenak, “Itu mesti waktu study wisata ya. Tapi akhirnya nanti enggak jadi—“

“Gausah spoiler.” Anna menyahut.

Sheira tertawa lagi, mendekati Veya, “Terus Ily itu sebenarnya enggak..” Sheira berbisik. “Tapi buku tentang itu masih belum terbit.”

Veya yang mendengar perkataan Sheira berseru, “Weh?! Beneran?” wajahnya terlihat antusias, melupakan fakta beberapa saat yang lalu Ia masih menangis.

“Tuh, yang di spoilerin saja enggak keberatan.” Sheira melirik Anna.

“iya, iya.” Anna balik melirik Sheira sekilas.

Veya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang baca. Setelah diperhatikan baik-baik ruang baca ini memang sangat rapi, ditata sesuai tinggi, judul, dan penulisnya. Selain novel-novel remaja, juga ada buku seri anak—mungkin bacaan untuk adik Anna, komik, beberapa ensiklopedia, majalah, dan buku lainnya.

“Rapi banget ya bukunya, banyak banget lagi. Sekeluarga suka baca semua ya Ann?” Veya menoleh pada Anna. Anna mengangguk.

“Gimana sih caranya biar buku itu tetap bagus? Kalau aku punya buku pasti akhirnya ada yang sobek lah, atau lecek lah. Apalagi buku pelajaran.”

“Disampul lah.” Sheira menyahut

“Eh, tapi itu kadang enggak pas sama bukunya.”

“Dipotong lah, terus dilipat.”

“Ribet banget.”

“Memang ribet sih, tapi kan bikin bukunya rapi sama gak gampang sobek. Kalau aku sih lebih suka sampul yang gulungan.”

“Ohh, yang nempel sendiri itu kan.”

Sheira mengiyakan. “Terus selain itu jangan baca sambil makan-minum. Apalagi kalo tangan basah habis apa gitu, atau ada bekas remah makanan, nanti bisa bikin buku jadi kotor. Terus jangan simpan buku di tempat yang lembab. Oh satu lagi, jangan lupa rutin bersihkan buku dari debu.”

Veya ber-oh panjang.

“Bisa juga kayak Anna tuh. Kalo buku dipinjam ke orang banyak gabolehnya.” Sheira tertawa.

Veya juga tertawa pelan, mengangguk-angguk. Itu saran yang boleh dicoba.  

Mereka mengobrol lagi, Anna hanya memperhatikan. Sesekali bergabung dalam obrolan kedua temannya, lalu lanjut kembali membaca novel.

“Tahu enggak, aku pernah baca. Di luar negeri ada yang santai pada ninggalin buku di pinggir jalan begitu. Jadi mereka naruh buku-buku bertumpuk disitu, enggak takut ada yang nyuri. Karena mereka percaya pencuri gak akan membaca buku, dan orang yang membaca buku enggak akan mencuri.” Sheira berkata lagi.

“Wihh, bisa ya kayak gitu.” Veya menanggapi.

Anna beranjak ke dapur, hendak membawa camilan dan minuman baru, yang tadi sudah habis. Ia juga hendak menengok adiknya apakah masih tidur pulas. Saat di dapur, samar-samar terdengar suara Sheira atau seruan Veya. Hening sejenak. Tak lama kemudian Sheira dan Veya menyusul Anna di dapur, membantu menyiapkan minuman dan membawa camilan.

“Aduh, makasih ya Ann, udah disiapin camilan lagi yang baru. Kan jadi enak.” Sheira menyeringai kecil. Anna mengangguk.

“Besok-besok boleh main lagi kan Ann?” Veya yang mendengar perkataan Sheira juga tertawa, bertanya pada Anna. Anna mengangguk lagi, tidak masalah.

“Kapan-kapan kalo main kesini nonton film saja, maraton drakor yang bikin baper.” Sheira mengusulkan. Mereka sudah kembali ke ruang baca.

“Eh, anime saja. Aku pengin nonton ulang yang voli voli itu.” Veya mengeluarkan pendapatnya. “Kalau kamu suka yang mana Ann?” Veya menatap Anna.

“Dua-duanya. Tapi lebih suka film barat, action.” Anna menjawab. Sheira dan Veya terdiam.

“Dahlah, selera film kita emang gabisa bersatu.” Sheira menepuk jidatnya.

Veya tertawa, “Yaudah, nanti nontonnya gantian aja semua. Ditonton satu-satu.”

Anna mengangguk setuju.

Sheira juga mengiyakan. “Heh btw kita out of topic loh. Ini kan cerita tentang buku-buku gitu.”

Sheira dan Anna lanjut membaca, belum bosan. Sedangkan Veya memilih untuk melihat-lihat koleksi novel Anna.

“Pulang, pergi, sama negeri-negeri ini bagus enggak Shei?” Veya bertanya.

“Menarik sih ceritanya, tapi eku enggak cocok. Soalnya bahasanya bikin mikir dulu, apalagi yang negeri-negeri itu, berat. Terus ada baku hantamnya, aku gasuka. Menurutku biasa saja.” Sheira menjawab.

“Bagus.” Anna menyahut.

“Eh, masa? Katanya Sheira biasa saja.” Veya memiringkan kepalanya, meminta penjelasan.

“Kan kata Sheira. Pokoknya bagus, dibaca aja. Bahasanya biasa saja di aku, tetap masuk ke otak. Terus ada baku hantam itu malah bikin seru. Sheira kebanyakan nonton drakor cinta-cintaan sih, jadi gasuka adegan baku hantam. Nonton drakor yang genre lain juga dong.” Anna menjelaskan panjang lebar, melirik Sheira sekilas.

“Gausah ngejek ya Ann, pendapat sama selera orang kan beda beda.” Sheira menggerutu.

Veya tertawa.

 

***

 

Sore hari. Matahari hampir terbenam. Cahayanya yang lembut membasuh halaman rumah Anna.

Sheira dan Veya sudah pulang ke rumah masing-masing. Setelah berkata ingin meminjam beberapa novel untuk dibawa pulang pada Anna, Sheira memesan ojek online. Beberapa menit kemudian kakak Veya datang untuk menjemput Veya. Veya juga meminjam novel setelah mendapat rekomendasi dari Anna. Tak lama setelah Sheira dan Veya kembali, orang tua Anna pulang ke rumah.

Hari yang terasa panjang itu berakhir. Mereka telah bermain bersama, membaca buku, tertawa, dan mengobrol bersama. Hari itu sangat menyenangkan untuk mereka bertiga.

 

Created by :

Rayhana Putri Ramadhan

Ayatundira Setyoningrum

Mecca Dzakwan 



                                - THANK YOU -

Kamis, 20 Mei 2021

KEBANGKITAN NASIONAL

 

LATAR BELAKANG KEBANGKITAN NASIONAL

Mengutip Kemdikbud RI, latar belakang hari Kebangkitan Nasional adalah bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia. Hari Kebangkitan Nasional terkait dengan Budi Utomo. 

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei diambil dari tanggal lahirnya organisasi Budi Utomo.Berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 oleh Dr Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) menandai kebangkitan nasional Indonesia.

Sejak 1908 itulah, sejarah Indonesia memasuki babak baru yaitu masa pergerakan nasional. Pergerakan nasional adalah masa bangkitnya rasa semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dr Sutomo dan kawan-kawan ingin mendirikan sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial, ekonomi dan budaya. Keinginan tersebut terkait gagasan dr Wahidin Sudirohusodo yang ingin meningkatkan martabat rakyat dan bangsa Indonesia. Gagasan itu muncul melihat kondisi bangsa Indonesia pada saat itu memprihatinkan akibat sistem kolonialisme Belanda yang membodohi bangsa jajahannya. Pendidikan rakyat Indonesia terutama kaum pribumi rendah dan tidak mendapat informasi atau tertutup dari dunia luar. 

Di hadapan para pelajar STOVIA, dr Wahidin memberikan pesan mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana membebaskan diri dari keterbelakangan. Dari sini, Sutomo dan Suraji bertemu dr Wahidin, membahas pentingnya organisasi demi mewujudkan cita-cita itu. 

Pada 20 Mei 1908 di ruang Kelas Astronomi STOVIA, terjadi pertemuan yang menghasilkan terbentuknya organisasi Budi Utomo. Dengan Ketua Sutomo, Wakil Ketua M Sulaiman, Sekretaris I Suwarno, Sekretaris II Gunawan Mangunkusumo dan Bendahara Angka.

Lahirnya Budi Utomo menandai terjadinya perubahan bentuk perjuangan dalam mengusir penjajah, menjadi perjuangan dengan kekuatan pemikiran dan bersifat nasional. Perjuangan yang selama ini bersifat kedaerahan berubah menjadi bersifat nasional dengan tujuan mencapai Indonesia merdeka. Perjuangan yang selama ini secara fisik, juga dilakukan dengan cara memanfaatkan kekuatan pemikiran.

Budi Utomo memelopori munculnya organisasi-organisasi pergerakan pada masa selanjutnya. Antara lain Sarekat Dagang Islam, Indische Partij, Perhimpunan Indonesia dan Muhammadiyah.



      INDONESIAKU KINI


Negaraku cinta Indonesia 

Nasibmu kini menderita 

Rakyatmu kini sengsara 

Pemimpin yang tidak bijaksana 

Apakah pantas memimpin negara 

yang aman sentosa 


Oh Indonesia tumpah darahku 

Apakah belum terbit, 

Seorang pemimpin yang kita cari 

Apakah rasa kepemimpinan itu 

masih disimpan di nurani 

Tertinggal di lubuk hati 

Tak dibawa sekarang ini 


Rakyat membutuhkanmu 

Seorang Khalifatur Rasyidin 

Yang setia dalam memimpin 

Menyantuni fakir miskin 

Mengasihani anak yatim 


Kami mengharapkan pemimpin 

yang soleh dan solehah 

Pengganti tugas Rasulullah 

Sebagai seorang pemimpin ummah 

Yang bersifat Siddiq dan Fatanah 


Andaikan kutemukan 

Seorang pemimpin dunia 

Seorang pemimpin agama 

Seorang pemimpin Indonesia 

Hanya Allah Yang Mengetahuinya



Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

              Basah kuyub. Sore itu, ketika matahari hendak kembali ke peraduannya, tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Aku yang saat itu sedang mengunjungi Monumen Kebangkitan Nasional di Solo, buru-buru berlari mencari tempat berteduh. Warung bakso terdekat adalah referensi terakurat di saat darurat. Tiba-tiba, seorang lelaki botak menyenggolku hingga membuatku hampir tumbang. Dengan sigap ia meraih tanganku kemudian menariknya ke peluknya. Lelaki berkulit sawo matang dengan mata sipit itu mengenakan seragam dinas berwarna coklat. Sepertinya ia seorang pegawai pemerintah. Dilihat dari tas yang ia bawa, rupanya leleki itu adalah seorang guru SMA. Masih muda, umurnya baru 20 tahun.

            “Neng, apa kamu baik-baik saja?”, tanya lelaki itu membuyarkan lamunanku karena terpesona olehnya. Akupun segera ambil jarak dengan lelaki yang tak ku kenal ini.

            “Ah, iya. Aku baik-baik saja.”, jawabku agak gugup.

            “Hujannya lebat ya? Kelihatannya, kamu bukan orang sini ya?”, tanya lelaki botak itu mencoba mengakrabkan diri.

            “Iya, memang. Saya dari Jakarta, mas. Lagi ikut study tour yang diadain sekolah saya.”, jawabku.

            “Kamu masih SMA? Nama kamu siapa?”, tanyanya lagi.

            “Namaku Budi. Budiwati Utami. Mas boleh panggil aku Tami.”, jawabku singkat.

Entah apa sebabnya tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang menarikku. Sementara itu, tiba-tiba pria botak bermata sipit itu memudar dan lama-kelamaan menghilang. Begitupun warung bakso dan sekitarnya ikut menghilang. Sungguh tak masuk akal.

            Brugh!

            Ah, sakit. Lagi-lagi aku memimpikan momen perjumpaan pertamaku dengan Mahmud. Sudah tiga kali aku memimpikan momen tersebut. Apa mungkin ini hanya efek samping dari rasa kangen yang sudah dua tahun tak terealisasikan? Ah, sejak pertemuan pertamaku itu aku dan Mahmud bertukar nomor telepon dan alamat facebook. kemudian lambat laun hubungan kami semakin dekat dan akhirnya kami berpacaran tiga bulan sesudah pertemuan itu.

          

Matahari merangkak ke langit biru, sementara sinarnya menembus jendela kaca kamarku. Silau. Kulihat jam dinding kamarku sudah menunjukkan angka tujuh, sedangkan pukul 09.10 WIB aku harus sudah berada di kelas. Hari ini aku tak boleh telat ke kampus lagi, atau miss Yuni akan menendangku keluar dari kelasnya. Aku segera bersiap dan langsung meluncur ke kampus. Sebelumnya, tak kulewatkan sarapan pagiku dengan keluarga yang sudah menjadi ritual setiap pagi kami.

            “Mama denger, kamu mau ke Solo, Tami. Memangnya kapan kamu mau kesana?”, tanya mamaku di sela-sela acara breakfast kami.

            “Tiga hari lagi, ma. Aku mau ngelewatin ultahku di Solo.”, jawabku sambil melahap roti isi yang mamaku buatkan.

            “Kenapa nggak di Jakarta saja? Solo itu jauh, nak.”, tanya mama lagi. Agaknya ia sedikit keberatan dengan rencanaku.

            “Aku ada janji sama Mahmud, ma. Kami udah janjian mau ketemu di Monumen Kebangkitan Nasional, tempat pertama kali kita ketemu.”, tukasku menjawab pertanyaan mama.

            “Ya sudah. Terserah kamu saja. Mama cuma mau yang terbaik untukmu, nak.”, pugkasnya. Aku hanya tersenyum simpul dan melanjutkan sarapanku.

            20 Mei 1993, itulah hari dimana aku lahir ke dunia ini. Bertepatan dengan hari peringatan berdirinya Boedi Oetomo (EYD: Budi Utomo) atau lebih sering kita kenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Itulah sebabnya mama memberiku nama Budiwati Utami. Mungkin, jika aku laki-laki namaku adalah Budi Utomo. Karena hal tersebut pula aku selalu menjadi bahan ejekan teman-temen ketika aku masih duduk di bangku SD. Tepatnya ketika aku duduk di kelas lima, karena saat itu kami diajarkan materi tentang Kebangkitan Nasional pada mata pelajaran sejarah. 

Tak disangka miss Yuni tidak masuk hari ini. Tapi masih ada sederet mata kuliah yang sudah menanti hari ini. Menjadi mahasiswa jurusan PBI (Pendidikan Bahasa Indonesia) memang tidak sesulit mereka yang memilih matematika atau exact, akan tetapi cukup membuatku sakit kepala ketika harus menyelesaikan tugas yang berbau “mengarang”. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, serta orang-orang yang ada di sekitarku bahwa aku akan menjadi seorang guru bahasa Indonesia, kelak. Itu semua sebagai bentuk cintaku pada negriku yang kata Justin Bieber merupakan “some random country” atau negeri antah berantah.

            Hari ini tak ada sms ataupun telpon dari Mahmud. Padahal, lusa aku akan berada di Solo untuk menemuinya. Tadi malam, terakhir ia mengirim sms untukku yang isinya ucapan selamat tidur untukku. Setelah itu, sama sekali tak ada kabar lagi darinya. Padahal hari sudah terlalu sore. Mungkinkah ia kehabisan pulsa? Aku tak bisa berhenti bertanya-tanya dalam hati. Tidak basanya ia tak mengirim kabar seharian. Entahlah.

            Kelelahan karena seharian beraktivitas melanda tubuhku. Rasanya daki dan keringat sudah betah bermukim di sekujur badanku yang berwarna kuning langsat. Dengan air hangat, kubasahi badanku yang tengah letih. Tak perlu banyak shampoo untuk rambutku, karena rambutku hanya sebatas pundak saja. Seusai mandi, aku segera berpakaian lalu membuka ponselku. Ternyata sebuah pesan singkat dari Mahmud masuk ke inboxku.

            “syg, mf bru bsa sms kmu skrg. Aggy apa ni?”, begitulah isinya.

            “o. Gpp koq. Biz mndi ni. Oia, lusa aq go to Solo.”, balasku via sms.

            “okesip. Aq tunggu. Skrg aq mw nerusin krjaan ni, mklum lgi nmpuuuk. Bye cantik.”, satu sms terakhir darinya. Tak kubalas.

            Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali, karena aku harus menyiapkan barang-barang yang akan kubawa ke Solo. Besok merupakan hari ulang tahunku. Rencananya aku akan menginap di hotel atau apapun yang bisa untuk menginap. Aku tak ingin ketinggalan pesawat yang akan mengantarkanku ke Solo. Tak perlu waktu lama untuk berkemas, selanjutnya aku pamitan dengan ibu dan ayahku. Mereka pun tak henti menasehatiku banyak hal. Maklum, perwujudan kasih sayang mereka terhadapku, mungkin.

            

Di bandara, aku mendapat sms dari Mahmud. Tadi pagi aku mengirim pesan padanya, bahwa aku akan ke Solo hari ini dan tak ada balasann darinya. Mungkin ia masih tidur tadi pagi, dan baru sempat membalas smsku sekarang.

            “Hati-hati di jln ea. Maf bru bka hape.”, begitu smsnya.

            “iya, gpp.”, balasku singkat.

            Tak berapa lama kemudian, akupun terbang ke Solo. Di dalam pesawat, aku tak membuka ponsel sama sekali. Aku hanya tertidur sambil mendengarkan music dari music player yang sengaja ku bawa. Tiga jam kemudian, akupun mendarat di Solo dengan selamat. Tak ada yang menjemputku. Maklum, pacarku sedang sibuk dan tak ada waktu untuk menjemputku. Terpaksa kucari sendiri penginapan untuk melepas penatku. Tentu saja penginapan yang jaraknya dekat dengan Monumen Kebangkitan Nasional. akupun segera tidur setelah mendapatkan tempat penginapan.

            Sore pun tiba. Pelan-pelan ku buka mata yang masih sedikit ngantuk. Akupun segera mandi, setelah itu aku berwisata kuliner untuk mengganjal perut. Setelah dirasa cukup kenyang, aku jalan-jalan sebentar. Menikmati sore hari di jalanan kota Solo. Setelah itu, akupun segera pulang ke penginapan untuk rehat.

            Esok harinya, aku bersiap untuk menemui Mahmud di Monumen Kebangkitan Nasional. Satu jam sudah, aku sibuk memilih kostum yang cocok untuk bertemu dengannya. Pilihanku jatuh pada kemeja coklat dengan jeans berwarna biru telur asin, serta bando berwarna pink sebagai pemanis. Setelah dirasa cantik, akupun segera meluncur ke tempat yang sudah ditentukan. Kukenakan wedges coklat dan tas hitam. Tak perlu waktu lama untuk sampai ke tempat itu. Aku sampai di Monumen Kebangkitan Nasional tepat lima belas menit sebelum waktu yang di janjikan, yaitu pukul 09.00 WIB. Rasanya aku sudah tak sabar menunggu kedatangannya. 

Tak perlu menunggu terlalu lama, seorang lelaki tinggi dengan jeans biru serta kemeja hitam melambaikan tangannya padaku. Benar, ia adalah Mahmud pacarku. Dua tahun tak bertemu, ternyata ia membiarkan rambutnya tumbuh. Sekali lagi aku terpesona olehnya. Ia berada di seberang jalan. Kulihat ia tersenyum dan mulai berjalan kearahku. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Pandangannya beralih pada seorang anak SD yang sedang menyebrang, sedangkan tak jauh darinya ada sebuah mini bus melaju dengan kecepatan tinggi dan siap menghantam tubuh kecil gadis perempuan itu. Tanpa pertimbangan, kulihat Mahmud dengan spontan berlari kearah anak kecil tersebut. Jantungku serasa hendak terlepas dari dadaku. Dengan sigapnya Mahmud meraih anak kecil tersebut dan melarikannya ke tepi jalan. Ibu anak kecil itu teriak histeris. Khawatir akan anaknya yang hampir saja tertabrak mini bus. Pacarku tertenggor mini bus itu, namun tak ada luka serius yang ia alami. Segera ku berlari kearahnya. Ia dikerumuni orang-orang yang mengkhawatirkan anak kecil itu. Setelah menyadari kehadiranku, ia tersenyum dan mendekatiku.

            “Kamu nggak apa-apa kan?”, tanyaku dengannada cemas.

            “Iya.”, jawabnya sambil tersenyum simpul kepadaku. “Happy Birthday ya, sayang.”, lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya. “Dan juga selamat hari kebangkitan nasional.”, sambungnya. Membuatku spontan melipat mukaku. Kemudian ia tersenyum geli.

            “Kamu ini! Pacarnya lagi khawatir setengah mati malah bercanda.”, ujarku dengan nada jengkel. Ia hanya tersenyum geli melihat tingkahku. Kemudian kami menghabiskan waktu dengan gembira, seharian.

            Hari ini aku mendapat pelajaran berharga, bahwa aku memiliki seorang pacar yang luar biasa. Tak peduli resiko yang ia ambil, ia menyelamatkan seorang anak kecil yang nyaris tertabrak mini bus. Selain itu, ia adalah seorang guru yang baik. Yang selalu berusaha agar anak didiknya mempunyai bekal untuk terjun ke masyarakat nantinya. Ia mengajar PKn di sebuah SMA di Solo. Berharap agar siswanya memiliki rasa cinta tanah air dan nasionalisme yang tinggi. Kelak, akupun akan menjadi seorang guru bahasa Indonesia. Akupun akan berusaha menjadi seperti Mahmud. Berusaha menanamkan rasa cinta terhadap bahasa pemersatu, yakni bahasa Indonesia. Di masa depan, aku akan mengabdikan diriku sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tugasku sekarang adalah belajar dengan sungguh-sungguh agar aku bisu lulus kuliah tepat wktu. Insya Allah!








Contact

Talk to us

Hubungi kami untuk kritik dan saran

Address:

Jl. Sumpah Pemuda No.62, Kadipiro, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57136

Work Time:

Every Day

Diberdayakan oleh Blogger.

BOM 2026

BATTLE OF MIND 2026       Oleh: Anggy Nayla Khalifa Battle of Mind 2026: Unleashing The Power of Thought in Shaping Tomorrow’s Worlds      ...

Cari Blog Ini