SELAMAT DATANG DI BLOG OPBS

MAN 1 SURAKARTA

Program Boarding School Sains Riset dan Teknologi MAN 1 Surakarta adalah salah satu program unggulan jurusan IPA yang menyediakan fasilitas asrama dan pengembangan diri untuk siswanya. Program ini diharapkan untuk menyiapkan peserta didik yang berakhlakul kharimah, taat dalam beribadah, dan mempunyai bidang keahlian sains, bahasa Inggris, dan ICT (Information and Communication Technologies) sehingga mampu mengembangkan diri sebagai intelektual muslim.

Our Account

YOUTUBE

Visit

INSTAGRAM

Visit

TWITTER

Visit

BLOG

Visit

Mading Dan Kegiatan

Sabtu, 17 Juli 2021

HARI BUKU

 

 

Hari Buku Sebagai Sarana Untuk Meningkatkan Minat Literasi




Hari Buku Nasional atau Harbuknas diperingati setiap tanggal 17 Mei, hal ini berbeda dengan Hari Buku Sedunia yang diperingati pada tanggal 23 April. Hari buku ini ditetapkan sejak tanggal 17 Mei 2002. Hari buku ini bertujuan untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan, dan hak cipta.

Sejarah penetapan tanggal 17 Mei sebagai Hari Buku di Indonesia sendiri karna ide dari Abdul Malik Fajar, Menteri Pendidikan Indonesia pada tahun 2002. Penetapan tangga 17 Mei juga bertepatan dengan peringatan berdirinya gedung Perpustakaan Nasional, hal ini dimaksudkan untuk menunjukan filosofi bahwa buku sangat erat kaitannya dengan perpustakaan.

Ditetapkannya Hari Buku itu dilatar belakangi kondisi bangsa Indonesia yang ketika itu masih lebih banyak mempertahankan tradisi lisan dibanding menjawab tuntutan informasi dengan banyak membaca. Secara umum masyarakat masih memiliki tradisi menyebarkan informasi dari mulut ke mulut dari pada membaca.

Selain itu, juga karena melihat kondisi memprihatinkan Indonesia yang rata-rata hanya ada 18 ribu judul buku yang dicetak setiap tahunnya, jumlah tersebut jauh dibawah Jepang dengan 40 ribu judul pertahunnya dan China dengan 140 ribu judul buku pertahunnya.

Tujuan utama dari didakannya Hari Buku Nasional adalah agar dapat meningkatkan angka melek huruf dan angka literasi masyarakat Indonesia. Tingkat melek huruf Indonesia pada penduduk berusia diatas 15 tahun, pada 2002 hanya 87,9%, angka tersebut kalah dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara seperti Malaysia (88,7%), Vietnam (90,3%), dan Thailand (92,6%) di tahun yang sama.

Pada Maret 2016, Central Connection State University merilis survei minat baca pada setiap negara di dunia. Hasilnya, Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei. Dari data tersebut menunjukan bahwa minat literasi Indonesia sangat rendah.

UNESCO juga menyatakan bahwa minat baca Indonesia sangat memprihatinkan, presentasenya hanya 0,001%, yang artinya hanya ada 1 dari 1000 orang yang rutin membaca. Word Bank meriis laporan bahwa dari penduduk Indonesia yang rutin membaca, lebih dari setengahnya, yaitu 55%, mengalami buta huruf fungsional, yang artinya masih banyak yang “kurang” memahami informasi yang dibaca.

Di zaman serba teknologi saat ini masih ada sekitar 1,93% penduduk Indonesia yang buta huruf, berdasarkan laporan BPS 2020 .Pada pandemi Covid-19, angka buta huruf mengalami peningkatan dari 1,78% (pada 2019) menjadi 1,93% (pada 2020). Artinya masih ada sekitar 5.237.053 penduduk Indonesia yang mengalami buta huruf.

Para Penduduk Indonesia yang mengalami buta huruf itu sebagian besar tersebar di enam provinsi di Indonesia, mencangkup Papua (21,9%), Nusa Tenggara Barat (7,46%), Nusa Tenggara Timur (4,24%), Sulawesi Selatan (4,22%), Sulawesi Barat (3,98%), dan Kalimantan Barat (3,82%).

Dengan adanya Hari Buku dapat diharapkan dapat meningkatkan minat literasi dan mengurangi presentasi masyarakat buta huruf di Indonesia.

 














 

Gerimis  

Langit cerah, sedikit mendung. Matahari bersinar lembut seperti biasa. “Udan Kethek” (Hujan Monyet), begitulah beberapa daerah menyebutnya. Hujan, namun matahari tidak tertutup awan, tetap bersinar. Kontras dengan suasana pagi yang tenang dan damai, suasana di sebuah kelas terasa ramai.

Jamkos. Alasan yang membuat kelas itu lebih berisik dibanding biasanya. Setelah pelajaran matematika yang membosankan, jamkos ini memang waktu yang tepat untuk membuang penat di pelajaran sebelumnya.

Beberapa anak terlihat berkumpul di meja, berbisik-bisik. Sesekali berseru kencang, lalu berbisik-bisik lagi. Beberapa ada yang bermain di lantai, duduk melingkar. Membuat beberapa meja dan kursi tergeser. Ada juga yang berkeliaran di teras kelas. Masuk saat ada guru yang lewat, lantas keluar lagi saat guru itu sudah pergi. Lalu ada yang pergi ke kantin, jajan. Membawa makanan ke dalam kelas. Lalu ada yang menyanyi tidak jelas di depan kelas, konser dadakan dengan suara pas pasan.

Selain anak anak yang berisik ada juga yang terlihat tenang. Mencatat materi matematika yang tertinggal, atau tidur. Tidur di meja, tidur di lantai, dimanapun tempat yang enak untuk tidur.

Begitu juga dengan dua anak perempuan yang duduk di pojok kelas. Mereka terlihat tenang, seolah tidak terpengaruh oleh keributan di kelas mereka. Mereka sedang membaca. Terlihat beberapa novel bertumpuk di atas meja.

“lagi baca novel apa Shei?” Suara Veya yang datang memecah fokus Sheira.

Sheira menoleh, hendak menjawab. “Baca—“

“Ohh yang judulnya benda benda langit itu ya?” Veya lebih dulu memotong ucapan Sheira, mengamati novel yang sedang dibaca Sheira.

“Tuh kan kebiasaan motong omongannya orang.” Bukannya menjawab, Sheira malah mengomeli Veya.

“Heheh.. maaf Shei.” Veya menangkupkan tangan di depan dada, meminta maaf. “Eh tapi bukannya kamu sudah baca sampai yang cover abu abu tua itu? Yang kamu baca ini kan bulan”

“Baca ulang. Soalnya ceritanya bagus banget, dibaca ulang pun enggak bosen.” Sheira menjawab sambil kembali membaca novel.

Veya memperhatikan beberapa novel di atas meja, mengambilnya satu, membuka sembarang halaman. “Iya sih, dulu aku pernah baca sampai bintang memang bagus. Tapi aku baca lewat pdf, dikasih teman.”

“Ilegal.”

Veya dan Sheira menoleh. Itu suara Anna. Dari tadi Anna hanya diam, fokus membaca novelnya. Saat ini pun dia tidak mengalihkan pandangannya, tetap fokus membaca. Sepertinya Anna sekilas mendengar percakapan Veya dan Sheira.

“Eh, emangnya iya Ann?” Veya menatap Anna.

Anna diam, masih fokus membaca. Tahu orang yang dia tanyai tidak akan menjawab, Veya menoleh pada Sheira, meminta jawaban.

“Iya, ilegal. Soalnya itu kayak pelanggaran hak cipta begitu kan. Yang berhak memperbanyak itu kan pemilik hak ciptanya. Jadi kalau mau mengumumkan atau memperbanyak harus dapat izin penciptanya. Memang ada sih penulis yang mengizinkan e-book-nya diunduh secara gratis, tapi kan cuma beberapa. Kalau aku sih lebih suka baca  novelnya langsung saja daripada pdf. Lihat layar hp sama laptop lama lama kan enggak enak di mata.” Sheira menjawab pertanyaan Veya.

“Kalo buku bajakan itu juga gaboleh ya?”

“Enggak boleh lah. Apa sih untungnya beli yang bajakan. Walaupun murah tapi kan kualitasnya buruk banget, terus juga merugikan banyak pihak. Merugikan penulis, editor, sama penerbit dan toko bukunya. Habis itu juga bisa kena denda loh. Pokoknya jangan deh beli buku bajakan.”

“Oke!” Veya menyatukan ibu jari dan telunjuknya, membuat tanda. Veya melihat lihat lagi buku yang ada di atas meja. “Eh, yang ini lanjutannya bintang kan, aku belum baca. Aku mau pinjam ya?”

“Oh itu novelnya Anna.” Sheira yang menjawab.

“Pinjam ya Ann?”

“Iya.” Anna menjawab singkat, masih tetap membaca.

“Eh Vey,” Sheira menyikut Veya, berbisik. “Kalau pinjam novelnya Anna halamannya jangan ditekuk, jangan sobek, pembatasnya jangan hilang, jangan basah, jangan kotor, jangan dibuka lebar lebar apalagi kalau masih baru. Pokoknya banyak jangan-nya. Hati- hati ya pinjamnya. Kalau rusak sedikit saja yang punya bisa marah”

Veya tertawa kecil, mengiyakan perkataan Sheira.

“Gausah bisik-bisik. Kedengaran sampai sini tahu.” Anna berseru ketus.

Sheira tertawa. “Maaf ya Ann. Tapi benar kan, kamu itu kalau sama novel dirawat banget kayak gaboleh tergores sedikitpun begitu.”

“Kan biar awet.” Anna berseru lagi.

Sheira menoleh pada Veya, “Tahu gak vey, dirumahnya banyak novel. Apalagi yang penulisnya novel ini, komplit.” Sheira menunjuk novel yang dibacanya. “Dijamin betah kalau main kerumahnya.”

“Wihh, enak banget ya bisa ngoleksi banyak novel begitu. Kalau aku mana bisa, sudah tergoda buat beli yang lain.” Wajah Veya terlihat riang. “Aku waktu libur panjang nanti mau baca novel seharian dirumah ah.”

“Jangan cuma baca novel, baca buku yang lain juga.” Anna berkata pelan.

Mirror ya Anna sayang. Padahal kamu juga suka banget baca novel. Tuh, dari tadi kamu enggak nengok ke kita sama sekali loh, Cuma nyahut-nyahut, lihatnya ke novel terus.” Sheira mulai mengomel.

“Kamu jadi jarang bersosialisasi sama sekitarmu kan, enggak memperhatikan. Baca buku, komik, novel, itu boleh yang penting enggak berlebihan. kamu itu juga sedikit-sedikit baca novel. Jamkos baca novel, jam istirahat baca novel, aku curiga jangan jangan waktu pelajaran kamu diam-diam baca novel ya Ann?” Sheira menyelidik, menatap Anna. Yang ditatap sedang fokus membaca novel.

“Tuh kan! Enggak nggagas. Tadi dengerin aku ngomong enggak sih?” Sheira menyenggol lengan Anna.

Anna menoleh, mengangkat satu alisnya, raut mukanya seolah bertanya ‘kenapa?’. Sheira menghela nafas pelan, sudah biasa menghadapi sifat Anna.

“Eh, besok libur kan, mau ke Gramed enggak?” Veya mengalihkan topik.

Anna mengangguk.

“Ayo! Aku sudah lama enggak ke gramed deh. Aku mau beli buku terbarunya serial bumi.” Sheira terlihat antusias, melupakan kekesalannya pada Anna.

“Aku udah punya dirumah.” Anna menoleh pada Sheira.

“Demi apaa!? Yang cover putih sama abu-abu itu?”

“Iya.” Anna menganggguk lagi.

“Kok enggak bilang sih. Yaudah besok habis ke gramed mampir rumahmu ya Ann. Gausah beli deh, hemat uang jajan.”

“Iya.”

 

***

 

Esoknya. Veya dan Sheira sudah di gramedia sejak satu setengah jam yang lalu. Tapi batang hidung Anna belum juga terlihat.

“Aduh si Anna ini kebiasaan deh kalo main datangnya paling akhir. Nanti kalau pada mau pulang baru datang.” Sheira menggerutu kesal. Mereka sedang diantara rak rak buku, melihat-lihat novel.

“Mungkin lagi dijalan Shei.”

“Rumah dia deket loh Vey dari sini.”

“Eh, ya gatau Shei. Coba di chat.” Usul Veya.

“Oh iya ya.” Sheira hendak mengambil ponsel di dalam tas.

Tapi suara notifikasi lebih dulu menyahut. Ternyata itu chat dari Anna. Sheira membacanya sekilas, mendengus pelan, lantas mengetikkan jawaban.

“Siapa Shei?”

“Anna. Disuruh langsung ke rumahnya aja. Katanya disuruh jaga adik dirumah, orang tuanya pergi.” Sheira menjelaskan.

“Yaudah yuk. Aku mau bayar ini dulu, terus kita ke rumah Anna.” Veya beranjak pergi ke kasir sambil membawa novel yang akan Ia beli.

“Oke.”

Setelah Veya membayar novelnya, mereka keluar dari gramedia. Setelah memesan taksi online. Sheira sempat mengomel soal kenapa Anna tidak mengabari dari awal, jadi mereka tidak usah menunggu lama di gramed. Veya hanya tertawa menanggapi perkataan Sheira.

Tidak sampai lima belas menit, mereka sampai di rumah Anna. Sheira mengomel pada Anna, yang hanya dibalas anggukan saja. Veya sempat bertanya dimana adik yang harus dijaga Anna. Anna menjawab sekilas, tidur.

Mereka menuju ruang baca. Sheira langsung meminjam novel milik Anna, sedangkan Anna menyiapkan minuman dan beberapa camilan dibantu Veya. Lalu mereka bertiga duduk tenang di ruang baca rumah Anna.

Hening. Entah sudah berapa menit berlalu. Sesekali terdengar suara lembaran buku di balik, juga suara camilan yang dimkan.

Sheira menutup novelnya sejenak saat mendengar suara seseorang.

“Loh, nangis Vey?”

“Ali baper banget aaaaa.” Veya mengusap air mata di pipinya.

Sheira tetawa sejenak, “Itu mesti waktu study wisata ya. Tapi akhirnya nanti enggak jadi—“

“Gausah spoiler.” Anna menyahut.

Sheira tertawa lagi, mendekati Veya, “Terus Ily itu sebenarnya enggak..” Sheira berbisik. “Tapi buku tentang itu masih belum terbit.”

Veya yang mendengar perkataan Sheira berseru, “Weh?! Beneran?” wajahnya terlihat antusias, melupakan fakta beberapa saat yang lalu Ia masih menangis.

“Tuh, yang di spoilerin saja enggak keberatan.” Sheira melirik Anna.

“iya, iya.” Anna balik melirik Sheira sekilas.

Veya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang baca. Setelah diperhatikan baik-baik ruang baca ini memang sangat rapi, ditata sesuai tinggi, judul, dan penulisnya. Selain novel-novel remaja, juga ada buku seri anak—mungkin bacaan untuk adik Anna, komik, beberapa ensiklopedia, majalah, dan buku lainnya.

“Rapi banget ya bukunya, banyak banget lagi. Sekeluarga suka baca semua ya Ann?” Veya menoleh pada Anna. Anna mengangguk.

“Gimana sih caranya biar buku itu tetap bagus? Kalau aku punya buku pasti akhirnya ada yang sobek lah, atau lecek lah. Apalagi buku pelajaran.”

“Disampul lah.” Sheira menyahut

“Eh, tapi itu kadang enggak pas sama bukunya.”

“Dipotong lah, terus dilipat.”

“Ribet banget.”

“Memang ribet sih, tapi kan bikin bukunya rapi sama gak gampang sobek. Kalau aku sih lebih suka sampul yang gulungan.”

“Ohh, yang nempel sendiri itu kan.”

Sheira mengiyakan. “Terus selain itu jangan baca sambil makan-minum. Apalagi kalo tangan basah habis apa gitu, atau ada bekas remah makanan, nanti bisa bikin buku jadi kotor. Terus jangan simpan buku di tempat yang lembab. Oh satu lagi, jangan lupa rutin bersihkan buku dari debu.”

Veya ber-oh panjang.

“Bisa juga kayak Anna tuh. Kalo buku dipinjam ke orang banyak gabolehnya.” Sheira tertawa.

Veya juga tertawa pelan, mengangguk-angguk. Itu saran yang boleh dicoba.  

Mereka mengobrol lagi, Anna hanya memperhatikan. Sesekali bergabung dalam obrolan kedua temannya, lalu lanjut kembali membaca novel.

“Tahu enggak, aku pernah baca. Di luar negeri ada yang santai pada ninggalin buku di pinggir jalan begitu. Jadi mereka naruh buku-buku bertumpuk disitu, enggak takut ada yang nyuri. Karena mereka percaya pencuri gak akan membaca buku, dan orang yang membaca buku enggak akan mencuri.” Sheira berkata lagi.

“Wihh, bisa ya kayak gitu.” Veya menanggapi.

Anna beranjak ke dapur, hendak membawa camilan dan minuman baru, yang tadi sudah habis. Ia juga hendak menengok adiknya apakah masih tidur pulas. Saat di dapur, samar-samar terdengar suara Sheira atau seruan Veya. Hening sejenak. Tak lama kemudian Sheira dan Veya menyusul Anna di dapur, membantu menyiapkan minuman dan membawa camilan.

“Aduh, makasih ya Ann, udah disiapin camilan lagi yang baru. Kan jadi enak.” Sheira menyeringai kecil. Anna mengangguk.

“Besok-besok boleh main lagi kan Ann?” Veya yang mendengar perkataan Sheira juga tertawa, bertanya pada Anna. Anna mengangguk lagi, tidak masalah.

“Kapan-kapan kalo main kesini nonton film saja, maraton drakor yang bikin baper.” Sheira mengusulkan. Mereka sudah kembali ke ruang baca.

“Eh, anime saja. Aku pengin nonton ulang yang voli voli itu.” Veya mengeluarkan pendapatnya. “Kalau kamu suka yang mana Ann?” Veya menatap Anna.

“Dua-duanya. Tapi lebih suka film barat, action.” Anna menjawab. Sheira dan Veya terdiam.

“Dahlah, selera film kita emang gabisa bersatu.” Sheira menepuk jidatnya.

Veya tertawa, “Yaudah, nanti nontonnya gantian aja semua. Ditonton satu-satu.”

Anna mengangguk setuju.

Sheira juga mengiyakan. “Heh btw kita out of topic loh. Ini kan cerita tentang buku-buku gitu.”

Sheira dan Anna lanjut membaca, belum bosan. Sedangkan Veya memilih untuk melihat-lihat koleksi novel Anna.

“Pulang, pergi, sama negeri-negeri ini bagus enggak Shei?” Veya bertanya.

“Menarik sih ceritanya, tapi eku enggak cocok. Soalnya bahasanya bikin mikir dulu, apalagi yang negeri-negeri itu, berat. Terus ada baku hantamnya, aku gasuka. Menurutku biasa saja.” Sheira menjawab.

“Bagus.” Anna menyahut.

“Eh, masa? Katanya Sheira biasa saja.” Veya memiringkan kepalanya, meminta penjelasan.

“Kan kata Sheira. Pokoknya bagus, dibaca aja. Bahasanya biasa saja di aku, tetap masuk ke otak. Terus ada baku hantam itu malah bikin seru. Sheira kebanyakan nonton drakor cinta-cintaan sih, jadi gasuka adegan baku hantam. Nonton drakor yang genre lain juga dong.” Anna menjelaskan panjang lebar, melirik Sheira sekilas.

“Gausah ngejek ya Ann, pendapat sama selera orang kan beda beda.” Sheira menggerutu.

Veya tertawa.

 

***

 

Sore hari. Matahari hampir terbenam. Cahayanya yang lembut membasuh halaman rumah Anna.

Sheira dan Veya sudah pulang ke rumah masing-masing. Setelah berkata ingin meminjam beberapa novel untuk dibawa pulang pada Anna, Sheira memesan ojek online. Beberapa menit kemudian kakak Veya datang untuk menjemput Veya. Veya juga meminjam novel setelah mendapat rekomendasi dari Anna. Tak lama setelah Sheira dan Veya kembali, orang tua Anna pulang ke rumah.

Hari yang terasa panjang itu berakhir. Mereka telah bermain bersama, membaca buku, tertawa, dan mengobrol bersama. Hari itu sangat menyenangkan untuk mereka bertiga.

 

Created by :

Rayhana Putri Ramadhan

Ayatundira Setyoningrum

Mecca Dzakwan 



                                - THANK YOU -

Kamis, 20 Mei 2021

KEBANGKITAN NASIONAL

 

LATAR BELAKANG KEBANGKITAN NASIONAL

Mengutip Kemdikbud RI, latar belakang hari Kebangkitan Nasional adalah bangkitnya semangat nasionalisme, persatuan, kesatuan dan kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan negara Indonesia. Hari Kebangkitan Nasional terkait dengan Budi Utomo. 

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei diambil dari tanggal lahirnya organisasi Budi Utomo.Berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908 oleh Dr Sutomo dan para mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) menandai kebangkitan nasional Indonesia.

Sejak 1908 itulah, sejarah Indonesia memasuki babak baru yaitu masa pergerakan nasional. Pergerakan nasional adalah masa bangkitnya rasa semangat persatuan, kesatuan dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Dr Sutomo dan kawan-kawan ingin mendirikan sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial, ekonomi dan budaya. Keinginan tersebut terkait gagasan dr Wahidin Sudirohusodo yang ingin meningkatkan martabat rakyat dan bangsa Indonesia. Gagasan itu muncul melihat kondisi bangsa Indonesia pada saat itu memprihatinkan akibat sistem kolonialisme Belanda yang membodohi bangsa jajahannya. Pendidikan rakyat Indonesia terutama kaum pribumi rendah dan tidak mendapat informasi atau tertutup dari dunia luar. 

Di hadapan para pelajar STOVIA, dr Wahidin memberikan pesan mengenai pentingnya pendidikan sebagai sarana membebaskan diri dari keterbelakangan. Dari sini, Sutomo dan Suraji bertemu dr Wahidin, membahas pentingnya organisasi demi mewujudkan cita-cita itu. 

Pada 20 Mei 1908 di ruang Kelas Astronomi STOVIA, terjadi pertemuan yang menghasilkan terbentuknya organisasi Budi Utomo. Dengan Ketua Sutomo, Wakil Ketua M Sulaiman, Sekretaris I Suwarno, Sekretaris II Gunawan Mangunkusumo dan Bendahara Angka.

Lahirnya Budi Utomo menandai terjadinya perubahan bentuk perjuangan dalam mengusir penjajah, menjadi perjuangan dengan kekuatan pemikiran dan bersifat nasional. Perjuangan yang selama ini bersifat kedaerahan berubah menjadi bersifat nasional dengan tujuan mencapai Indonesia merdeka. Perjuangan yang selama ini secara fisik, juga dilakukan dengan cara memanfaatkan kekuatan pemikiran.

Budi Utomo memelopori munculnya organisasi-organisasi pergerakan pada masa selanjutnya. Antara lain Sarekat Dagang Islam, Indische Partij, Perhimpunan Indonesia dan Muhammadiyah.



      INDONESIAKU KINI


Negaraku cinta Indonesia 

Nasibmu kini menderita 

Rakyatmu kini sengsara 

Pemimpin yang tidak bijaksana 

Apakah pantas memimpin negara 

yang aman sentosa 


Oh Indonesia tumpah darahku 

Apakah belum terbit, 

Seorang pemimpin yang kita cari 

Apakah rasa kepemimpinan itu 

masih disimpan di nurani 

Tertinggal di lubuk hati 

Tak dibawa sekarang ini 


Rakyat membutuhkanmu 

Seorang Khalifatur Rasyidin 

Yang setia dalam memimpin 

Menyantuni fakir miskin 

Mengasihani anak yatim 


Kami mengharapkan pemimpin 

yang soleh dan solehah 

Pengganti tugas Rasulullah 

Sebagai seorang pemimpin ummah 

Yang bersifat Siddiq dan Fatanah 


Andaikan kutemukan 

Seorang pemimpin dunia 

Seorang pemimpin agama 

Seorang pemimpin Indonesia 

Hanya Allah Yang Mengetahuinya



Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

              Basah kuyub. Sore itu, ketika matahari hendak kembali ke peraduannya, tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Aku yang saat itu sedang mengunjungi Monumen Kebangkitan Nasional di Solo, buru-buru berlari mencari tempat berteduh. Warung bakso terdekat adalah referensi terakurat di saat darurat. Tiba-tiba, seorang lelaki botak menyenggolku hingga membuatku hampir tumbang. Dengan sigap ia meraih tanganku kemudian menariknya ke peluknya. Lelaki berkulit sawo matang dengan mata sipit itu mengenakan seragam dinas berwarna coklat. Sepertinya ia seorang pegawai pemerintah. Dilihat dari tas yang ia bawa, rupanya leleki itu adalah seorang guru SMA. Masih muda, umurnya baru 20 tahun.

            “Neng, apa kamu baik-baik saja?”, tanya lelaki itu membuyarkan lamunanku karena terpesona olehnya. Akupun segera ambil jarak dengan lelaki yang tak ku kenal ini.

            “Ah, iya. Aku baik-baik saja.”, jawabku agak gugup.

            “Hujannya lebat ya? Kelihatannya, kamu bukan orang sini ya?”, tanya lelaki botak itu mencoba mengakrabkan diri.

            “Iya, memang. Saya dari Jakarta, mas. Lagi ikut study tour yang diadain sekolah saya.”, jawabku.

            “Kamu masih SMA? Nama kamu siapa?”, tanyanya lagi.

            “Namaku Budi. Budiwati Utami. Mas boleh panggil aku Tami.”, jawabku singkat.

Entah apa sebabnya tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang menarikku. Sementara itu, tiba-tiba pria botak bermata sipit itu memudar dan lama-kelamaan menghilang. Begitupun warung bakso dan sekitarnya ikut menghilang. Sungguh tak masuk akal.

            Brugh!

            Ah, sakit. Lagi-lagi aku memimpikan momen perjumpaan pertamaku dengan Mahmud. Sudah tiga kali aku memimpikan momen tersebut. Apa mungkin ini hanya efek samping dari rasa kangen yang sudah dua tahun tak terealisasikan? Ah, sejak pertemuan pertamaku itu aku dan Mahmud bertukar nomor telepon dan alamat facebook. kemudian lambat laun hubungan kami semakin dekat dan akhirnya kami berpacaran tiga bulan sesudah pertemuan itu.

          

Matahari merangkak ke langit biru, sementara sinarnya menembus jendela kaca kamarku. Silau. Kulihat jam dinding kamarku sudah menunjukkan angka tujuh, sedangkan pukul 09.10 WIB aku harus sudah berada di kelas. Hari ini aku tak boleh telat ke kampus lagi, atau miss Yuni akan menendangku keluar dari kelasnya. Aku segera bersiap dan langsung meluncur ke kampus. Sebelumnya, tak kulewatkan sarapan pagiku dengan keluarga yang sudah menjadi ritual setiap pagi kami.

            “Mama denger, kamu mau ke Solo, Tami. Memangnya kapan kamu mau kesana?”, tanya mamaku di sela-sela acara breakfast kami.

            “Tiga hari lagi, ma. Aku mau ngelewatin ultahku di Solo.”, jawabku sambil melahap roti isi yang mamaku buatkan.

            “Kenapa nggak di Jakarta saja? Solo itu jauh, nak.”, tanya mama lagi. Agaknya ia sedikit keberatan dengan rencanaku.

            “Aku ada janji sama Mahmud, ma. Kami udah janjian mau ketemu di Monumen Kebangkitan Nasional, tempat pertama kali kita ketemu.”, tukasku menjawab pertanyaan mama.

            “Ya sudah. Terserah kamu saja. Mama cuma mau yang terbaik untukmu, nak.”, pugkasnya. Aku hanya tersenyum simpul dan melanjutkan sarapanku.

            20 Mei 1993, itulah hari dimana aku lahir ke dunia ini. Bertepatan dengan hari peringatan berdirinya Boedi Oetomo (EYD: Budi Utomo) atau lebih sering kita kenal sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Itulah sebabnya mama memberiku nama Budiwati Utami. Mungkin, jika aku laki-laki namaku adalah Budi Utomo. Karena hal tersebut pula aku selalu menjadi bahan ejekan teman-temen ketika aku masih duduk di bangku SD. Tepatnya ketika aku duduk di kelas lima, karena saat itu kami diajarkan materi tentang Kebangkitan Nasional pada mata pelajaran sejarah. 

Tak disangka miss Yuni tidak masuk hari ini. Tapi masih ada sederet mata kuliah yang sudah menanti hari ini. Menjadi mahasiswa jurusan PBI (Pendidikan Bahasa Indonesia) memang tidak sesulit mereka yang memilih matematika atau exact, akan tetapi cukup membuatku sakit kepala ketika harus menyelesaikan tugas yang berbau “mengarang”. Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, serta orang-orang yang ada di sekitarku bahwa aku akan menjadi seorang guru bahasa Indonesia, kelak. Itu semua sebagai bentuk cintaku pada negriku yang kata Justin Bieber merupakan “some random country” atau negeri antah berantah.

            Hari ini tak ada sms ataupun telpon dari Mahmud. Padahal, lusa aku akan berada di Solo untuk menemuinya. Tadi malam, terakhir ia mengirim sms untukku yang isinya ucapan selamat tidur untukku. Setelah itu, sama sekali tak ada kabar lagi darinya. Padahal hari sudah terlalu sore. Mungkinkah ia kehabisan pulsa? Aku tak bisa berhenti bertanya-tanya dalam hati. Tidak basanya ia tak mengirim kabar seharian. Entahlah.

            Kelelahan karena seharian beraktivitas melanda tubuhku. Rasanya daki dan keringat sudah betah bermukim di sekujur badanku yang berwarna kuning langsat. Dengan air hangat, kubasahi badanku yang tengah letih. Tak perlu banyak shampoo untuk rambutku, karena rambutku hanya sebatas pundak saja. Seusai mandi, aku segera berpakaian lalu membuka ponselku. Ternyata sebuah pesan singkat dari Mahmud masuk ke inboxku.

            “syg, mf bru bsa sms kmu skrg. Aggy apa ni?”, begitulah isinya.

            “o. Gpp koq. Biz mndi ni. Oia, lusa aq go to Solo.”, balasku via sms.

            “okesip. Aq tunggu. Skrg aq mw nerusin krjaan ni, mklum lgi nmpuuuk. Bye cantik.”, satu sms terakhir darinya. Tak kubalas.

            Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali, karena aku harus menyiapkan barang-barang yang akan kubawa ke Solo. Besok merupakan hari ulang tahunku. Rencananya aku akan menginap di hotel atau apapun yang bisa untuk menginap. Aku tak ingin ketinggalan pesawat yang akan mengantarkanku ke Solo. Tak perlu waktu lama untuk berkemas, selanjutnya aku pamitan dengan ibu dan ayahku. Mereka pun tak henti menasehatiku banyak hal. Maklum, perwujudan kasih sayang mereka terhadapku, mungkin.

            

Di bandara, aku mendapat sms dari Mahmud. Tadi pagi aku mengirim pesan padanya, bahwa aku akan ke Solo hari ini dan tak ada balasann darinya. Mungkin ia masih tidur tadi pagi, dan baru sempat membalas smsku sekarang.

            “Hati-hati di jln ea. Maf bru bka hape.”, begitu smsnya.

            “iya, gpp.”, balasku singkat.

            Tak berapa lama kemudian, akupun terbang ke Solo. Di dalam pesawat, aku tak membuka ponsel sama sekali. Aku hanya tertidur sambil mendengarkan music dari music player yang sengaja ku bawa. Tiga jam kemudian, akupun mendarat di Solo dengan selamat. Tak ada yang menjemputku. Maklum, pacarku sedang sibuk dan tak ada waktu untuk menjemputku. Terpaksa kucari sendiri penginapan untuk melepas penatku. Tentu saja penginapan yang jaraknya dekat dengan Monumen Kebangkitan Nasional. akupun segera tidur setelah mendapatkan tempat penginapan.

            Sore pun tiba. Pelan-pelan ku buka mata yang masih sedikit ngantuk. Akupun segera mandi, setelah itu aku berwisata kuliner untuk mengganjal perut. Setelah dirasa cukup kenyang, aku jalan-jalan sebentar. Menikmati sore hari di jalanan kota Solo. Setelah itu, akupun segera pulang ke penginapan untuk rehat.

            Esok harinya, aku bersiap untuk menemui Mahmud di Monumen Kebangkitan Nasional. Satu jam sudah, aku sibuk memilih kostum yang cocok untuk bertemu dengannya. Pilihanku jatuh pada kemeja coklat dengan jeans berwarna biru telur asin, serta bando berwarna pink sebagai pemanis. Setelah dirasa cantik, akupun segera meluncur ke tempat yang sudah ditentukan. Kukenakan wedges coklat dan tas hitam. Tak perlu waktu lama untuk sampai ke tempat itu. Aku sampai di Monumen Kebangkitan Nasional tepat lima belas menit sebelum waktu yang di janjikan, yaitu pukul 09.00 WIB. Rasanya aku sudah tak sabar menunggu kedatangannya. 

Tak perlu menunggu terlalu lama, seorang lelaki tinggi dengan jeans biru serta kemeja hitam melambaikan tangannya padaku. Benar, ia adalah Mahmud pacarku. Dua tahun tak bertemu, ternyata ia membiarkan rambutnya tumbuh. Sekali lagi aku terpesona olehnya. Ia berada di seberang jalan. Kulihat ia tersenyum dan mulai berjalan kearahku. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Pandangannya beralih pada seorang anak SD yang sedang menyebrang, sedangkan tak jauh darinya ada sebuah mini bus melaju dengan kecepatan tinggi dan siap menghantam tubuh kecil gadis perempuan itu. Tanpa pertimbangan, kulihat Mahmud dengan spontan berlari kearah anak kecil tersebut. Jantungku serasa hendak terlepas dari dadaku. Dengan sigapnya Mahmud meraih anak kecil tersebut dan melarikannya ke tepi jalan. Ibu anak kecil itu teriak histeris. Khawatir akan anaknya yang hampir saja tertabrak mini bus. Pacarku tertenggor mini bus itu, namun tak ada luka serius yang ia alami. Segera ku berlari kearahnya. Ia dikerumuni orang-orang yang mengkhawatirkan anak kecil itu. Setelah menyadari kehadiranku, ia tersenyum dan mendekatiku.

            “Kamu nggak apa-apa kan?”, tanyaku dengannada cemas.

            “Iya.”, jawabnya sambil tersenyum simpul kepadaku. “Happy Birthday ya, sayang.”, lanjutnya sambil mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya. “Dan juga selamat hari kebangkitan nasional.”, sambungnya. Membuatku spontan melipat mukaku. Kemudian ia tersenyum geli.

            “Kamu ini! Pacarnya lagi khawatir setengah mati malah bercanda.”, ujarku dengan nada jengkel. Ia hanya tersenyum geli melihat tingkahku. Kemudian kami menghabiskan waktu dengan gembira, seharian.

            Hari ini aku mendapat pelajaran berharga, bahwa aku memiliki seorang pacar yang luar biasa. Tak peduli resiko yang ia ambil, ia menyelamatkan seorang anak kecil yang nyaris tertabrak mini bus. Selain itu, ia adalah seorang guru yang baik. Yang selalu berusaha agar anak didiknya mempunyai bekal untuk terjun ke masyarakat nantinya. Ia mengajar PKn di sebuah SMA di Solo. Berharap agar siswanya memiliki rasa cinta tanah air dan nasionalisme yang tinggi. Kelak, akupun akan menjadi seorang guru bahasa Indonesia. Akupun akan berusaha menjadi seperti Mahmud. Berusaha menanamkan rasa cinta terhadap bahasa pemersatu, yakni bahasa Indonesia. Di masa depan, aku akan mengabdikan diriku sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Tugasku sekarang adalah belajar dengan sungguh-sungguh agar aku bisu lulus kuliah tepat wktu. Insya Allah!








Rabu, 21 April 2021

KARTINI'S DAY



 Raden Ajeng Kartini

Novia Rahmah & Faqita Amalia

 

Siapa sih yang tidak kenal dengan Pahlawan Emansipasi Wanita ? Yap, dia adalah RA Kartini. RA Kartini lahir tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Kartini lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan Jawa. Hal tersebut menjadi alasan mengapa beliau mendapat gelar RA yang merupakan singkatan dari Raden Ajeng. Ayah dari RA Kartini merupakan putra Pangeran Arion Tjondronegoro IV. Meskipun ibu dari RA Kartini merupakan istri pertama, namun ibu dari RA Kartini bukan istri yang utama. Ibu dari RA Kartini bernama MA Ngasirah. Beliau adalah seorang Kiyai di Telukawur, Surabaya. MA Ngasirah sendiri bukan merupakan putri keturunan bangsawan. RA Kartini merupakan merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara, baik kandung maupun tiri. RA Kartini sendiri merupakan putri tertua di antara saudara sekandungnya.

RA Kartini bersekolah di ELS (Europese Lagere School) hingga usia 12 tahun. Di masa sekolah inilah beliau belajar Bahasa Belanda. Singkatnya masa sekolah tersebut disebabkan pada umur 15 tahun RA Kartini harus tinggal di rumah karena sudah dipingit. Dirinya mulai belajar menulis surat pada teman-teman dari Belanda, salah satunya adalah Rosa Abendanon, yang sangat mendukung RA Kartini. Dimulai belajar surat-menyurat inilah RA Kartini tertarik dengan pola pikir perempuan Eropa. Lalu beliau mulai memiliki keinginan untuk memajukan perempuan Indonesia yang status sosialnya masih rendah kala itu. RA Kartini mulai memperhatikan masalah emansipasi wanita dengan membandingkan para wanita Eropa dengan wanita Indonesia. Baginya seorang wanita harus mendapatkan persamaan, kebebasan, dan otonomi serta kesetaraan hukum.

12 November 1903 tepatnya ketika RA Kartini berusia 24 tahun, beliau diminta menikah dengan Bupati Rembang saat itu, yaitu K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Suami RA Kartini tersebut telah memiliki tiga orang istri. Suami dari RA Kartini sangat memberi pengertian tentang keinginan RA Kartini. Bahkan beliau membebaskan dan mendukung RA Kartini untuk mendirikan sekolah wanita di timur pintu gerbang perkantoran Rembang, yang saat ini telah menjadi gedung pramuka. Dari pernikahannya, RA Kartini dikaruniai seorang putra bernama RM Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904. Sangat disayangkan, empat hari setelah RA Kartini melahirkan, tepatnya pada usia 25 tahun, RA Kartini meninggal dunia dan beliau dimakamkan di Desa Bulu, Rembang.

Tahukah kamu beberapa fakta menarik tentang Raden Ajeng Kartini? Simak beberapa info di bawah ini!

1. Buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” Menuai Kontroversi

Buku tersebut merupakan kumpulan surat R.A. Kartini, khususnya ada 53 surat yang ditujukan kepada sahabatnya, orang Belanda, yakni Rosa Abendanon. Surat-surat tersebut kemudian dikumpulkan oleh J.H. Abdendanon. Total ada 150 surat yang berhasil dikumpulkan Abdendanon. Dalam buku tersebut, banyak pemikiran Kartini yang mengkritik kondisi sosial saat dirinya hidup. Khususnya terhadap posisi perempuan dalam struktur sosial masyarakat kala itu. Namun, isi buku tersebut sempat diragukan kebenarannya oleh para sejarawan, sebab tidak ada bukti bahwa seluruh surat yang ada di dalam buku tersebut adalah tulisan tangan R.A. Kartini.

2. Kartini Mahir Berbahasa Belanda

Sebagai seorang anak bangsawan Jawa, Kartini mendapat pendidikan yang cukup. Dari pendidikan itu, Kartini mendapat kesempatan untuk mempelajari bahasa Belanda. Kepiawaiannya berbahasa Belanda itulah yang membuat dirinya memiliki akses untuk berkomunikasi dengan berbagai elemen pemerintahan Belanda masa itu.

Kartini mampu menuliskan permohonan beasiswa pendidikan kepada Pemerintah Belanda saat dirinya berusia 20 tahun. Tak hanya itu, Kartini juga sempat menuliskan surat protes kepada pemerintahan Hindia Belanda. Dalam suratnya, Kartini meminta Pemerintah Hindia Belanda untuk memasukkan bahasa Melayu dan bahasa Belanda dalam kurikulum pendidikan kaum pribumi. Kepiawaiannya merangkai kata dalam bahasa Belanda itulah salah satu hal yang dikagumi banyak sahabatnya dari kalangan bangsa Belanda.

3. Jago Masak & Sempat Menulis Resep Masakannya dalam Aksara Jawa

Dari sekian banyak hasil kreasi tata boganya, ada dua masakan andalannya yang digemari oleh banyak orang. Masakan itu ialah Sup Pangsit Jepara dan Ayam Basengek.

Adapun, Kartini menggunakan kemahiran memasaknya sebagai sarana diplomasi kebudayaan kepada pemerintahan Belanda dan Hindia Belanda kala itu. Melalui masakannya, Kartini berhasil mengenalkan budaya Jawa kepada bangsa Belanda sehingga mereka menghormati kebudayaan Jawa. Resep-resep yang ditulis dalam aksara jawa itu kemudian ditulis kembali oleh Suryatini N.Ganie, cicit Kartini, dalam buku berjudul “Kisah & Kumpulan Resep Putri Jepara; Rahasia Kuliner R.A. Kartini, R.A. Kardinah, dan R.A. Roekmini.”

4. Menjadi Juru Dakwah Agama Islam

Tak hanya memperjuangkan hak-hak perempuan pada masanya, Kartini juga dikenal sebagai juru dakwah agama Islam. Ia belajar menekuni ajaran agama Islam dari Kyai Sholeh bin Umar, ulama dari Darat, Semarang. Bahkan, ia pun ikut berdakwah dan menunjukkan wajah Islam yang ramah kepada bangsa Belanda. Kartini, melalui surat-suratnya kepada koleganya di Belanda, selalu menjelaskan ajaran dan menunjukkan sisi keindahan Islam. Pertemuan Kartini dengan Kyai Sholeh dapat dikatakan sebagai bagian perjalanan spiritual penting dalam hidupnya.

5. Ada Nama Jalan Kartini di Belanda

Sosok Kartini tidak hanya dicintai dan dihormati di Indonesia, melainkan juga di Belanda. Hal itu dibuktikan dengan adanya nama jalan R.A. Kartini di Belanda, yakni di kota Utrecht, Venlo, Amsterdam, dan Haarlem.

Yang paling menarik ialah di Haarlem. Nama jalan Kartini berdampingan dengan nama jalan dari tokoh-tokoh perjuangan Indonesia. Jalan R.A. Kartini berdekatan dengan Jalan Mohammed Hatta, Jalan Sutan Sjahrir, dan langsung tembus ke Jalan Chris Soumokil, Presiden Kedua Republik Maluku Selatan (RMS).

Nah, dengan begitu kita sebagai generasi penerus bangsa terutama perempuan haruslah menghargai perjuangan dari R A Kartini, berkat beliau derajat perempuan bisa dijunjung tinggi.

Salah satu bentuk menghargai perjuangan RA Kartini adalah dengan rajin belajar, tidak bermalas-malasan, menjaga pergaulan sehingga kita bisa menjadi orang yang sukses. Dan juga agar kedudukan perempuan tidak dipandang rendah lagi oleh masyarakat melainkan sebagai "Perempuan Hebat dan Bermartabat".

 

Kartini Sang Tokoh Emansipasi

Laili Nur Faizah


Inilah genius muda beliau dari Jepara

Hadir sebagai cahaya menerangi kegelapan

Nasib bangsa dalam kungkungan penjajah

Diperjuangkanya keadilan dan kesetaraan

 

Antara pria dan wanita, semoga mereka

Tetaplah menjadi manusia yang dititahkan Tuhan

Sebagai seindah-indah ciptaan

yang dimuliakan-Nya

Supaya menjadi hamba-Nya yang taat

Saling setia menjaga martabat

 

Jangan pernah ada sikap membeda-bedakan

Itu sungguh-sungguh arogan dan tidak arif

Biarlah pria dan wanita bahu-membahu

Di dalam rumah tangga dan perjuangan

 

Saling menyayang dan menghargai, mewujudkan

Keluarga sejahtera damai syahdu

Jadilah sang pria tegar perkasa dan perwira

Memegang teguh amanat mulia

 

Sementara wanita memelihara kelembutan jiwa

Penuh kasih sayang merawat cinta dan setia

Ciptakan harmoni menuju kehidupan sarat makna

Membangun surga di dunia fana dalam limpahan

Ridho dan berkah-Nya


R.A Kartini

Faiza Firdausy

            Sosok wanita ayu yang begitu dipuja oleh kaum wanita Indonesia. Karena beliaulah, wanita bisa merasakan kesamaan derajat dengan pria. Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879. Beliau termasuk keluarga bangsawan Jawa, oleh karena itu gelar Raden Adjeng alias R.A disematkan padanya.

Keberuntungan Kartini memiliki Pangeran Ario Tjondro IV, bupati pertama Jepara yang merupakan kakeknya. Kakeknya terbiasa memberikan pendidikan barat kepada anak-anaknya, Karena pemikiran kakeknya yang terbuka, Kartini memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah di ELS (Europese Lagere School) saat usianya 12 tahun. Kecerdasan Kartini semakin terasah di dunia sekolah.

Di usia 15 tahun Kartini harus menghentikan langkahnya ke sekolah. Kartini harus tinggal di rumah karena sudah dipingit seperti wanita lain. Untunglah dia memiliki sahabat di negeri Belanda bernama Rosa Abendanon yang bisa diajak bertukar pikiran. Pertukaran pikirannya dilakukan lewat surat menyurat. Kartini tahu bahwa kehidupan wanita Eropa dengan Indonesia sungguh berbeda. Di Indonesia, wanita memiliki status yang rendah yang tak pernah mendapatkan persamaan, kebebasan, dan otonomi serta kesetaraan hukum. Kondisi tersebut membuat miris hati Kartini. Keinginan untuk memajukan nasib wanita pun tumbuh di hatinya. Kartini merasa tergugah dan bertekad untuk merubah nasib kaumnya. Tekadnya semakin lama semakin kuat.

R.A Kartini menikah pada usia 24 tahun dengan K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat sebagai istri keempat. Suaminya mendukung keinginan Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Kartini tak bisa berjuang lama karena Kartini wafat di usia 25 tahun, 4 hari setelah melahirkan putra semata wayang.

Sekolah Kartini dibangun oleh Yayasan Kartini di Semarang oleh keluarga Van Deventer, tokoh Politik Etis yang menggagas Pembangunan sekolah tersebut. Tak lama pembangunanpun tersebar Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon, dan daerah lain.

Tak disangka surat-surat Kartini pada sahabat-sahabatnya di Belanda berhasil dikumpulkan oleh Jacques Henrij (J.H) Abendanon, kemudian menjadi cikal bahan pencetakan buku dengan tajuk awalnya “Door Duisternis tot Licht”. Kemudian judulnya diterjemahkan menjadi “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” 

Referensi : https://www.gramedia.com/literasi/biografi-ra-kartini


Puan

Arba Khoirunnisa

Ratap, sendu

Terkekang dalam angan, diam seribu bahasa

Sendu pada matamu,

Tak bisa kau sembunyikan


Wahai puan,

Dikau terpenjara tanpa jeruji

Dibungkam dengan seribu asa dalam genggam

Kalbumu hancur tak berirama

 

Hari bergilir menembus cakrawala

Kartini, gadis ayu itu,

Jiwamu tak lagi terpenjara

Kau membungkam seisi ruangan

Wahai puan,

Dalam pelukan angin,

Kau kembali pada sang Agung

Biarkanlah jiwamu melebur pada alam


BAKTI

Syarifa Ulya Fidyana

 

Raganya memang tak hadir di bumi

Namun

Di persemayaman sukmanya meratap

Lunglai terkulai

Menatap para pemudi yang kian abai

Tata krarma tergilas

Terbasuh air mata nestapa

 

Dalam senyap ia merintih

Norma terinjak tertindih

Berharap kembali beranjak namun nyatanya tertatih

 

Dalam diam ia meraung

Memandang ceceran

Harga diri para pemudi

Ternodai oleh  lelaki berhidung belang

 

Adalah Kartini

Putri pertiwi yang masyhur namanya

Bak lentera berhasil arungi lautan gulita

Peluh letih berjuang

Berupaya merebut kembali

Sebuah hak yang harus didapatkan para pemudi

Yang lama tlah dirampas oleh adat

Sebuah emansipasi

 

Lantas

Mengapa kau lalai wahai para pemudi

Apa kontribusi yang telah kau torehkan

Tuk lanjutkan juang Kartini

Pijarkan kembali namanya

Kian redup dimakan zaman

 

Bukan hanya sekedar ucapan

Yang terlontar dari lisan

Buktikan sebuah bakti

Yang tulus dari hati

Lantunkan selaksa doa yang kan mengangkasa

Dan jangan relakan

Sejarahnya usang dalam kenang



Masa untuk Era

Fidela Anandita

"Era!" teriak Fauzi sembari berusaha mengejar Era. Tampangnya nampak kesal sebab Era sama sekali tidak memedulikan ia. "Era jangan lari-larian. Entar patungnya jatuh terus—"

"Gue nggak peduli, wlek. Ayolah, main kejar-kejaran, Fauzi. Gue bosen dengerin guru sejarah ngedongeng." Era menghentikan langkahnya sejenak. Ia membalik badan menghadap Fauzi yang kewalahan. Ia nyengir kuda, mirip sekali dengan bocah. Padahal ia sudah kelas akhir SMA.

"Nggak. Mendingan kita kembali aja ke rombongan. Nanti kepisah, Era." Fauzi melanjutkan langkahnya. Ia menarik lengan Era. "Era udah gede, masa tingkahnya mirip sama anak TK, sih?"

Era memanyunkan bibirnya. Namun, ia sama sekali tidak menolak saat Fauzi menarik lengannya. Ia hanya mengekor sembari mendengarkan seluruh ocehan kawan lelakinya. Era tidak berniat menjawab, hanya menurut lengannya ditarik.

"Kapan Era bisa bersikap sedikit lebih dewasa? Era udah besar, loh. Fauzi nggak bisa jaga Era setiap saat. Nanti kalau Era kenapa-napa gimana?" Fauzi membuang napas tatkala tak mendapat jawaban. Ia mengusap wajahnya, menoleh ke arah Era di sebelah. "Era nggak dengerin Fauzi, ya?"

Gadis itu terperanjat sejenak. Ia balas menoleh. Iris cokelatnya beradu dengan iris kelabu milik Fauzi. "Eh? Gue dengerin Lo, kok."

"Era ngelamun, ya?" tebak Fauzi sembari menyelipkan anak rambut Era yang jatuh menutupi pandangan.

"Nggak, kok." Era menipiskan bibirnya. Membuang muka, beralih mengedarkan pandangan menyapu sekeliling. Sementara jemarinya masih saling bertautan dengan Fauzi.

Fauzi diam sejenak. "Kalau gitu, Era marah, ya sama Fauzi?"

Kali ini Era tak mengacuhkan Fauzi. Fokusnya telanjur jatuh pada ruangan gelap di ujung museum. Sepasang alisnya meluncur menciptakan kerutan di dahi. Ia melepaskan tautan jemarinya dengan Fauzi. Berjalan perlahan tetapi kecepatannya terus bertambah. Rasa penasarannya muncul ke permukaan.

 

Fauzi yang ditinggal berusaha kembali mengejar. "Era mau ke mana?"

"Mohon perhatiannya, siswa-siswi dari SMA Pancasila sudah ditunggu bapak ibu guru di parkiran. Dimohon segera berkumpul. Terima kasih atas perhatiannya."

 

Fauzi berdecak sesaat tatkala mendengar panggilan tersebut. Ia mengacak rambut cokelat gelapnya. Ngedumel sendiri lantas bergegas menyusul Era. Sahabat masa kecilnya ini memang suka merepotkan.

"Era! Udah disuruh kumpul, bentar lagi pulang. Era mau ke mana?! Nanti kita dicariin guru. Era ish, jangan ke sana!" teriaknya semakin kesal. Pasalnya Era hanya mengibaskan tangannya. Sama sekali tidak mempedulikan panggilannya.

Era mengintip ke arah celah pintu yang terbuka. Dari luar terlihat sangat gelap. Telinganya tanpa sengaja mendengar suara pedang yang beradu. Juga terdengar ledakan bom dari dalam ruangan gelap tersebut.

 

"Bioskop mini, kah?" tanyanya lebih kepada diri sendiri.

 

Era membuka pintunya lebih lebar. Semakin melongokkan kepalanya ke dalam. Namun, hanya gelap yang Era lihat. Gadis itu berdecak kesal, mulai melangkahkan kakinya. "Tempat apaan, sih?" Era mengernyit tatkala Indera pendengarannya berhenti menangkap suara pedang dan ledakan bom. Seketika ruangan ini menjadi hening.

"Era!" Fauzi mencekal lengan Era. Menariknya supaya keluar dari ruangan gelap tersebut.

Era menoleh sekilas, lantas menyentak tangan Fauzi yang mencekal. Arah pandangnya kembali pada ruang gelap tersebut. Kakinya melangkah semakin jauh. Lagi-lagi Fauzi menarik lengannya.

 

"Bentar, Zi. Gue kepo di dalem ada apaan. Lo tadi denger suara pedang beradu sama ledakan bom, nggak? Atau itu bioskop mini kali, ya?" tanya Era berhasil menciptakan lekukan pada dahi Fauzi.

"Hah? Fauzi nggak denger apa-apa, Era," sangkalnya sembari menggaruk kuping. Kini ia ikut melongok ke dalam.

"Masa, sih?" Era mengetuk-ngetuk dagunya dengan ujung jari telunjuk. "Mending kita masuk aja, liat di dalem ada apa." Tanpa persetujuan, Era menarik lengan Fauzi.

 

"Eh, tapi—"

 

"KYAAAA, FAUZI TOLONGIN GUE!" teriak Era tatkala mendadak tubuhnya terbanting keras. Medan pertempuran! Bagaimana mungkin bisa jadi seperti ini?!

 

Ruang gelap di ujung musium menyimpan medan perang seluas ini. Bagaimana bisa? Ini seperti permainan.

"Era! Era di mana?!" Fauzi balas berteriak. Ia nekat maju ke tengah orang-orang yang sedang beradu pedang. Sesekali ia merunduk menghindari ledakan bom yang dilontarkan. "Era!"

"Jangan ke sana, Masa!" Tiba-tiba saja sebuah tangan mencekal lengan Fauzi. Menarik tangannya supaya menepi.

Fauzi mengernyit tidak mengerti. Ia menatap lama pria dengan kumis cukup tebal. Sekiranya berusia kepala tiga. Ia seperti mengenalinya. Fauzi kerap melihat wajah ini di buku sejarah. Apakah …. "Kapitan Pattimura?!" serunya tak percaya.

Pria yang dipanggil menyunggingkan senyuman kecil. "Apakah kau lupa dengan temanmu ini, Masa?" Ia tertawa kecil.

Fauzi menggaruk kuping. "Eh? Nama saya Fauzi, Kapitan. Bukan Masa. Dan kenapa Kapitan bilang kalau saya temannya Kapitan? Saya nggak ngerti."

 

Pattimura menepuk pundak Fauzi, tersenyum gagah. "Akhirnya kau kembali lagi setelah lama menghilang. Lebih baik kau pulang, Masa. Kau tidak membawa pedang ataupun senjata apa pun. Dan hey, mengapa kau mirip seperti anak remaja?"

 

"Karena saya Fauzi, bukan Masa, Kapitan," ucap Fauzi meluruskan. Ia masih bingung dengan semua ini. Ia terbelalak tatkala mengingat suatu hal. "Astaga, Era! Kapitan tahu di mana Era? Dia gadis, teman saya."

"Kau mirip sekali dengan Masa." Pattimura menatap manik kelabu Fauzi. "Hanya berbeda di iris mata. Juga warna rambut."

"Kapitan, di mana Era? Saya takut kehilangan dia. Apalagi di zaman peperangan seperti sekarang. Saya bingung kenapa bisa sampai ke sini. Dan saya nggak tahu bagaimana caranya kembali." Fauzi menjambak rambutnya frustasi. Menggigit jari-jari tangan gelisah memikirkan Era.

 

"Temanmu ada di rumahku. Bersama remaja gadis lainnya. Pegang tanganku, akan aku antar ke rumahku." Pattimura mengulurkan tangannya. Meminta Fauzi untuk meraihnya.

"Tapi … bagaimana dengan Kapitan?" ragu Fauzi bertanya.

"Aku tetap di sini. Ini sudah tugasku untuk berjuang mengusir penjajah, Masa. Ayo, kemari." Pattimura meraih tangan Fauzi. Lantas, tanpa aba-aba, latar tempat berubah menjadi model rumah tempo dulu.

Tidak ada Pattimura bersamanya. Fauzi berulangkali meneriakkan nama sang pahlawan. Namun, tetap saja nihil hasilnya.

"Fauzi?"

Fauzi mengalihkan fokus tatkala mendengar namanya dipanggil. Ia terbelalak lantas air mata luruh tanpa rencana. Ia berlari menuju asal suara. "Era!" teriaknya kencang.

Era tersenyum simpul di tempatnya berdiri. Sementara Fauzi memeluk erat dirinya. "Jangan pergi-pergi lagi dari Fauzi. Fauzi khawatir sama Era."

"Era baik-baik aja kok, kamu nggak usah khawatir," hiburnya sembari mengelus punggung Fauzi.

Fauzi mengangkat kepalanya. "Era ngomongnya nggak Lo-gue lagi?"

Era melirik beberapa gadis yang mengintip dari belakang. "Temen-temen Era nggak ngerti kalau Era pakai Lo-gue, Zi." Era nyengir kuda lantas mengacak rambut hitam panjangnya.

Fauzi mengangguk mengerti. Menggandeng tangan Era berniat menemui para gadis di belakang. Mereka nampak asik melirik Fauzi dengan tingkah seperti tersipu malu.

"Hai, perkenalkan nama saya Fauzi. Dari zaman 2021. Saya dan Era tersesat di sini, hehe. Salam kenal, ya." Fauzi menjabat satu per satu tangan para gadis.

Sejenak hening melingkupi mereka. Hingga akhirnya Era membuka suara. Ia tidak jenak dengan suasana yang canggung ini. "Apa yang kita lakukan sekarang?" tuturnya sembari memainkan rok seragam putih abu-abunya.

"Kita hanya bisa bersembunyi dan menunggu kabar baik datang—jika benar kabar baik yang datang," lirih Putri—salah satu gadis.

"Apakah hanya itu? Tapi aku bosan, Putri," keluh Era sembari duduk bersila di sembarang tempat.

"Sifat kekanakannya Era muncul lagi, nih. Jangan lari-larian lagi, ya. Awas nanti Era nggak sengaja bikin bom meledak, loh. Fauzi nggak mau tanggung jawab pokoknya, ya," gurau Fauzi sembari mencubit gemas pipi Era.

"Palingan ka—"

 

DHAAAR

Orang-orang di dalam rumah serentak merunduk. Para gadis bersembunyi di balik punggung Fauzi. Mereka nampak sangat ketakutan.

"Belanda," bisik Ayu sembari meremas pakaian yang ia kenakan.

"Nah, 'kan, bomnya meledak beneran," celetuk Era yang reflek menggenggam tangan Fauzi saat mendengar suara ledakan.

"Era ini bukan saatnya bercanda." Fauzi menatap serius ke arah Era. Lantas ia berbalik memandangi satu per satu wajah para gadis di sini. "Kalian tetap di sini. Saya akan cek ke luar."

Lagi, reflek Era menarik tangan Fauzi. Raut mukanya berubah khawatir. "Fauzi jangan kemana-mana. Tetep sama Era. Era takut kamu kenapa-napa," mohon Era sembari memainkan jari-jari Fauzi.

Fauzi tersenyum tipis. Pelan melepas genggaman Era di tangannya. Hanya ia satu-satunya lelaki di sini. Sudah menjadi tugasnya untuk melindungi yang lainnya. "Apakah ada pedang atau apa pun yang bisa saya gunakan untuk melindungi diri?"

Fauzi menggaruk leher belakangnya. Sebenarnya ia sedikit ragu. Pasalnya, ia belum pernah bermain pedang atau senjata apa pun selama di zamannya. Ia juga tidak bisa bela diri. Apakah keputusan yang ia ambil ini tepat? Bagaimana jika terjadi sesuatu?

Fauzi menggelengkan kepala sekilas. Iris kelabunya perlahan berubah menjadi cokelat tua. Lalu rambut cokelat gelapnya berangsur menghitam. Era yang menyaksikan perubahan tersebut memundurkan langkah takut. Mencoba untuk bertanya, "Fa-fauzi kenapa?"

Fauzi menoleh, ia tetap Fauzi, tetapi dengan warna iris dan rambut yang berbeda. Ia tersenyum kecil. Mendekat ke arah Era. "Saya Masa, Era. Masa yang selama ini bersamamu. Maaf karena Masa tinggal di dalam tubuh Fauzi. Sebetulnya kami orang yang sama, hanya terpisah jiwa. Mungkin ini terdengar aneh bagi Era. Tapi pada kenyataannya, Masa dan Fauzi adalah kembar yang hidup dalam satu raga."

"M-maksudmu?"

Fauzi—Masa mengusap wajahnya yang kebas. "Sebenarnya, Masa yang lebih sering bersama Era. Tapi Masa menggunakan nama Fauzi karena orang tua Masa tidak mengakui kalau Masa itu ada. Masa berasal dari zaman ini, tetapi Masa tersesat di zamannya Era dan malah terjebak di dalam tubuh Fauzi." Masa tersenyum lembut.

 

Ia semakin mendekat ke arah Era. Telapak tangannya menangkup pipi Era. Ibu jarinya mengusap air mata yang menitik di wajah sahabat. "Seharusnya Masa ada di medan perang membantu Pattimura. Tapi … saya telanjur di sini bersama kalian. Maka Masa akan melindungi kalian dari Belanda." Masa menatap sekilas para gadis di sini. Lantas fokusnya kembali jatuh pada Era. "Era, Masa nggak bisa selalu ada untuk Era. Masa nggak bisa jaga Era setiap saat. Mulai sekarang, belajar menjadi lebih dewasa, ya? Supaya Era bisa mandiri tanpa Masa."

 

"Fauzi—Masa, k-kamu ngomong apa, sih? Kamu harus tetep sama Era. Era nggak mau kehilangan kalian berdua. Entah itu Fauzi ataupun Masa." Era menyingkirkan tangan Masa yang menangkup pipi. Air mata yang sempat mengering kembali tumpah ruah. Ia masih sulit menerima kenyataan ini. Rasanya seperti tidak mungkin ada dua jiwa dalam satu raga.

 

Masa menipiskan bibir. "Masa pergi dulu. Jaga diri Era baik-baik. Ajak teman-temanmu untuk bersembunyi. Jangan ada yang keluar sebelum Belanda pergi dari halaman rumah."

 

"Tapi—"

 

Masa bergegas menuju tempat persenjataan. Ia hafal dengan rumah Pattimura. Baginya tidak sulit menemukan pedang di sini. Ia mengasah pedangnya sekilas. Tersenyum singkat ke arah Era. Lantas bergegas keluar rumah.

"Masa!" Tanpa pikir panjang, Era berniat menyusul Masa. Namun, Putri lebih dulu mengunci lengannya.

"Era, jangan," bujuk Putri masih menahan langkah Era. Ayu ikut membantunya

"Lepas, Put! Era nggak bisa biarin sahabat Era ada di dalam bahaya," sanggahnya masih berusaha berontak. Terlihat jelas khawatir di raut wajahnya.

"Masa meminta kita untuk bersembunyi. Dia akan baik-baik saja, Era. Kau tidak perlu khawatir. Lebih baik kita bersembunyi dulu," tambah Ayu sembari menenangkan Era yang terlihat sangat cemas.

"Ayo, Era." Putri menarik lengan Era menjauh dari tempat mereka berdiri. Era tidak menjawab apa pun, menurut meskipun di dalam pikirannya dipenuhi oleh Masa.

 

Sementara di depan sana, Masa berhadapan dengan lima orang Belanda. Lelaki itu menyedekapkan tangan. Pedangnya ia simpan di sebelah tubuh. Dagunya terangkat, terkesan menantang. Ia sudah tidak asing lagi dengan mereka. Sebab pada dasarnya di sinilah rumahnya.

"Kawan-kawan, lihatlah! Ternyata ada lelaki yang bersembunyi di rumah." Salah seorang Belanda menunjuk Masa. Ia tertawa meremehkan diikuti oleh teman-temannya yang lain.

Masa yang mendengar itu menggeram tidak terima. Jemarinya mengepal. "Saya di sini bukan tanpa alasan! Lalu, bagaimana dengan kalian? Mengapa kabur dari medan perang? Apakah kalian takut dengan kegigihan rakyat Maluku, hem?" Masa mengedikkan bahu. Ia bersiap menggenggam pedang di sebelah tubuh. Antisipasi jika terjadi serangan mendadak.

"Sialan," geram Leo si pemimpin empat lainnya. "serahkan Putri Era kepada kami. Kami tahu kau di sini sebab melindungi Putri Era 'kan? Serahkan dia atau nyawamu menjadi gantinya."

Masa mengepal marah tatkala mendengar penuturan Leo. Wajahnya memerah. Mata lembutnya berubah tajam. Iris cokelat tuanya menatap tidak suka. Tanpa sepengetahuan, Masa mengayunkan pedangnya. Namun, Masa kalah cepat.

 

Leo sudah bersiap dengan pistolnya. Peluru panas itu meluncur, tertanam pada lengan Masa. Reflek Masa mengepalkan tangan. Meraba luka, merah darah mengalir deras. Tidak menyerah, Masa kembali mengayunkan pedang. Kali ini berhasil menggores lengan Leo. Pria itu gesit menghindar.

 

"Saya tidak akan pernah menyerahkan Era pada pecundang sepertimu," desis Masa tepat di telinga Leo. Pedangnya bergerak cepat menghunus perutnya.

 

Satu hal yang tidak Era ketahui. Dulunya Era pernah ada di zaman ini. Sebagai putri, dan Belanda menginginkannya. Sudah tugas Masa untuk melindungi Era.

Leo meraba perutnya yang bersimbah darah. Menatap benci ke arah Masa. Cepat sekali gerakan yang Masa lakukan. Hingga Leo sendiri tidak menyadari keberadaan Masa tepat di sebelahnya.

"Sekarang, kau mau apa, huh?" Masa kembali mendesis. Ia tersenyum miring. Mencabut kasar pedangnya. Hal itu berhasil membuat Leo melotot kesakitan.

 

Leo semakin mencengkram perutnya. Gemetar tangannya menarik pelatuk. Tanpa sepengetahuan Masa, peluru panas tersebut tertanam mulus di perutnya. Seragam SMA yang Masa kenakan seketika berlumur merah.

Masa yang tidak menyadari pergerakan melotot merasakan nyeri di area perut. Ia menatap tajam Leo yang masih sanggup berdiri.

"Jika aku mati, maka kau tidak boleh selamat." Leo tertawa kecil. Ia mulai kesulitan bernapas. Luka di perutnya semakin nyeri. "Kalian, cari Putri Era di dalam! Tak usah pedulikan diriku."

Empat orang yang berniat membantu Leo serentak mengurungkan niatnya. Sedikit ragu meninggalkan pemimpin mereka yang terbaring merintih kesakitan.

Empat Belanda yang masih berdiri bergegas mencari Era. Namun, Masa mencegah. Lelaki itu mengayunkan pedangnya. Berhasil menggores leher salah satu dari mereka. Gemetar Masa mencoba bangkit. Memaksakan diri untuk bertarung dengan tiga yang tersisa.

"Kalian tidak bisa menyentuh Era!" tegasnya dengan wajah memerah marah.

 

Masa mulai menyerang. Namun, gerakannya melambat. Peluru yang tertanam di perutnya sungguh merepotkan. Rasanya sangat nyeri, tetapi ia tidak akan menyerah sebelum nyawanya melayang.

"Iya kah?" Bara, salah satu dari mereka tersenyum sinis. Ia memainkan pistol, lantas mengarahkan pelatuk pada tungkai Masa.

Masa sempat menghindar. Akan tetapi, tetap saja peluru itu berhasil menggores luka. Masa tersungkur. Tubuhnya terasa begitu remuk. Ia terbelalak teringat sesuatu. "M-masa tidak boleh mati, atau Fauzi juga akan ikut mati. Masa tidak boleh menyerah, kau menggunakan tubuh orang lain. J-jangan s-sam-pai M-ma-sa m-ma-ti," bisiknya pada diri sendiri. Berusaha kembali bangkit.

 

Baru saja telapak tangannya berhasil menepak, Bara justru menginjak punggungnya. Masa kembali merebah, mulutnya memuntahkan darah. Masa mengembuskan napas lelah. Matanya terpejam, berniat kembali mengumpulkan tenaga.

Bara menendang tubuh Masa. Lantas ia berjongkok, menarik leher Masa secara kasar. Memaksa lelaki itu untuk menatapnya. "Kau sudah membunuh pemimpin kami. Maka kau juga harus mati!" desisnya mengancam.

Masa tertawa kecil. Darah mengalir dari hidungnya. Iris cokelatnya meredup. Ia sungguh tak tahu lagi harus bagaimana. Jika dirinya mati, maka Fauzi akan ikut tiada. Lantas, apa yang harus ia lakukan sekarang? Tubuhnya sangat lemah. Beranjak saja ia tak mampu.

 

Tanpa sepengetahuan Masa, Era berdiri mematung di bingkai pintu rumah. Gadis itu membekap mulutnya tak percaya. Air panas bergulir cepat mengaburkan pandangan. Jemarinya gemetar menyaksikan kawan masa kecilnya berlumur darah.

 

"Masa …," lirihnya tak terdengar.

 

Bara menyeringai menyaksikan Masa nampak sangat lemas. Ia memamerkan pistol di depan wajah Masa. Lantas menciptakan luka baru di tempat yang sama dengan yang Leo buat. Masa yang menerima itu melotot menahan rasa sakit. Urat-urat lehernya menegang. Apakah ini akan menjadi akhir? Akhir baginya juga Fauzi.

Bara bangkit setelah menanamkan peluru pada perut Masa. Kasar ia menginjak dada lelaki berusia tujuh belas tahun tersebut. Masa memuntahkan darah sebagai responnya. Memejamkan mata merasakan sakit yang menjalar. Membiarkan Bara pergi dari hadapannya.

 

"MASA!" teriak Era tatkala melihat bagaimana Bara memperlakukan Masa. Air matanya tumpah ruah. Tanpa berpikir, Era berlari menuju Masa.

Masa menoleh ke sumber suara. Tersenyum getir. "E-ra."

"Masa, Fauzi, Era mohon bertahan. Masa sama Fauzi jangan tinggalin Era. Kalian harus selalu ada untuk Era. Era mohon, bertahanlah." Era mengusap wajah Masa yang celemot darah. Memangku kepalanya. Menggenggam erat jari-jari tangan Masa.

"E-ra," panggil Masa. Telunjuknya lemah menghapus air mata. Tersenyum lembut. "Maaf karena Masa nggak bisa selalu ada untuk Era. Maaf karena Masa, Fauzi ikut terluka. Andai Masa t-tiada. Maka—"

"Nggak. Masa harus bertahan. Demi Era, demi Fauzi juga. Janji sama Era kalau Masa harus bertahan." Era mengusap air mata. Tangisnya kian meledak.

"M-maaf," lirih Masa diiringi dengan embusan napas berat.

 

Iris cokelat Masa berangsur kembali menjadi abu. Begitu juga rambutnya. Warna hitam itu kembali menjadi cokelat gelap. Pertanda bahwa jiwa Masa sudah mulai meninggalkan tubuh Fauzi.

Era yang melihat itu semakin meremas jemari Masa. Tangisnya kian menjadi. Era menggeleng cepat tatkala Masa hanya diam menatap redup dirinya dengan iris kelabu.

 

"Era, ma-af. Masa tidak memiliki pilihan. Masa sudah tidak sanggup lagi bertahan. Setelah ini kembalilah ke zamanmu. Meskipun tanpa Masa ataupun Fauzi. Kem-bali-lah. Selalu ingat ini, bahwa Masa sangat menyayangi Era. Meskipun selama ini Era mengenal Masa sebagai Fauzi. Masa izin pamit, Era. Kembalilah ke zamanmu. Se-la-mat t-tinggal." Masa tersenyum lembut sebelum iris kelabu tersebut sempurna tenggelam di balik kelopak.

 

Kacau, Era mengguncangkan tubuh Masa. Berharap dengan itu kawannya kembali bernapas. Namun sayang, semua telanjur terjadi. Salahkan ia. Sebab dirinya lah semua menjadi kacau seperti ini. Jika saja Era tidak penasaran dengan ruang gelap di ujung museum, orang yang sangat ia sayang tidak akan pernah pergi meninggalkannya.

Era memeluk erat jasad Masa—juga Fauzi. Membawanya dalam dekap. Menumpahkan segala sesak dalam dada. "Maafin Era yang selama ini selalu bikin Masa khawatir. Maafin Era karena selama ini nggak bisa jadi sahabat yang baik buat Fauzi. Maafin Era karena Era kalian pergi. Masa, Fauzi, Era mohon, kembali …." Percuma. Dua jiwa dalam satu raga tersebut telanjur menghadap kepada Tuhan.

 

Sementara itu, Bara dan dua temannya berniat menangkap Era. Namun, semacam ada dinding penghalang yang mengelilingi gadis tersebut. Mereka tidak bisa menyentuh Era. Mereka saling berpandangan tatkala tubuh Era berubah menjadi serpihan emas, begitu juga dengan Masa. Serbuk emas tersebut terbang dibawa angin. Meninggalkan kebingungan pada diri para Belanda.

 

Serpihan emas tersebut kembali menyatu dan membentuk tubuh Era dan Masa. Mereka sudah berganti zaman. Era melihat ke sekitar. "Ini ruangan gelap di ujung museum. Era dan Masa udah pulang," pekiknya antara bahagia dan sedih.

 

Ia kembali menatap mayat Masa. Lelaki itu masih setia memejamkan mata. Seragam putih abu-abunya tidak karuan. Celemot dengan darah.

Era mengelus surai cokelat sahabatnya. "Era nggak akan pernah tau kalau selama ini ada Masa di dalam tubuh Fauzi jika kita nggak pernah tersesat di zaman peperangan. Era minta maaf sama Masa dan Fauzi. Era memang bukan teman yang baik." Era mengembuskan napas berat. "Apa yang harus Era lakukan setelah ini? Guru-guru pasti nggak percaya melihat Fauzi meninggal seperti ini. Apalagi jika aku menceritakan tentang apa yang terjadi."

 

Era menelusuri gurat wajah lelaki di hadapan. Lantas ia mengelus surai cokelat gelapnya. "Fauzi, Masa, Era sangat menyesal. Apa yang harus Era lakukan setelah ini tanpa kalian berdua?"

 

Hening sejenak. Era menengadah, mencegah cairan bening tersebut kembali tumpah. Ia sadar bahwa sahabatnya ini tidak akan pernah menjawab pertanyaannya.

"Fauzi ada di sini. Masa untuk Era, Fauzi juga," lirih sebuah suara.

Era terbelalak tatkala mendapati lelaki itu mengerjapkan mata. Entah Masa atau Fauzi, ia menatap redup ke arahnya.

Air mata kembali bergulir turun. Bibirnya gemetar berusaha berucap, "M-masa? Fa-fauzi? I-ini beneran kalian?"

Jiwa dalam raga yang sama itu tersenyum getir. "Hanya ada Fauzi, Era. Masa udah nggak ada."

"M-maksudmu?" Era membekap mulutnya menahan luapan air mata.

"Kita kembali tepat waktu. Jiwa Fauzi masih ada saat jiwa Masa pergi. Jadi, Fauzi masih bisa selamat. Karena kita berhasil kembali ke zaman kita," jelas Fauzi sembari berusaha duduk.

"M-masa … d-dia—"

"Masa akan selalu ada di hati Era. Masa untuk Era. Masa akan selalu ada meskipun jiwanya sudah tiada, Era. Saat sendirian, Fauzi sering mengobrol dengan Masa. Dan memang Masa yang lebih sering bersama Era. Fauzi sangat sayang pada Masa. Fauzi sedih kehilangan kembaran Fauzi. Masa udah kayak separuh jiwanya Fauzi, Era." Fauzi menipiskan bibir. Kejadian ini sungguh mengguncang dirinya.

 

Era menunduk mendengar penjelasan Fauzi. "Maafin Era, Zi. Andai Era nggak penasaran sama tempat ini, semua nggak akan pernah terjadi. Dan Masa akan tetap ada bersamamu, bersama kita."

Fauzi menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Era. Ini sudah takdir dari Tuhan. Masa akan selalu ada di dalam hati kita. Selama kita mengenangnya."

TAMAT-


Tak Ada Yang Berubah

Ratu Balqis El Achzaby


Lampau kala angin berhembus sepoi sepoi

Namun kini hanya memekik hampa

Alam yang dahulu permai

Seakan terbuat sunyi lamat-lamat

 

Tenang yang terganti riuh

Namun bukan ramai akan insan

Melainkan para saksi bisu keruhnya alam sekarang

Tak beringas namun hanya menanti perubahan

 

Kini alam rusak tanpa jejak

Kiranya hancur karena takdir

Namun nyatanya ia tidak mempercayaimu lagi

Ia hanya diam mengikuti arus nya

 

Seakan tak paham akan keadaan

Para insan ini tak berkutik akan salahnya

Diam tak ada yang berubah

Namun menanti perubahan


~THANK YOU~

Made by :

  •         Faiza Firdausy
  •          Ratu Balqis El Achzaby
  •          Laili Nur Faizah
  •          Isma Rina M
  •          Novia Rahmah
  •          Faqita Amalia
  •          Fidela Anandita
  •          Syarifa Ulya Fidyana
  •          Arba Khairunnisa

Contact

Talk to us

Hubungi kami untuk kritik dan saran

Address:

Jl. Sumpah Pemuda No.62, Kadipiro, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57136

Work Time:

Every Day

Diberdayakan oleh Blogger.

BOM 2026

BATTLE OF MIND 2026       Oleh: Anggy Nayla Khalifa Battle of Mind 2026: Unleashing The Power of Thought in Shaping Tomorrow’s Worlds      ...

Cari Blog Ini